Sepotong Daun Kering #3

3
Kita Dalam Menghitung Hari
TUHAN memperkenalkan Karin dengan seseorang bernama Reynal Alfaryat lewat sebuah sosial media tiga tahun silam. Dua bulan setelah berkenalan Karin bisa merasakan ada yang lain dari sikap dan tingkahnya. Dia merasakan lebih banyak senyum dan dia jauh lebih semangat untuk menanti hari baru.
Perubahan yang Karin rasakan juga diketahui oleh beberapa temannya yang telah ia ceritakan tentang Reynal Alfaryat. Seperti Ditto (Null), Yorri (Oor), Weri, Kinan, Ayun dan Tanti.
Malam telah membawa nya pada sebuah pertemuan yang telah mereka janjikan. Karin tidak dapat mengelak lagi untuk menunda pertemuan karna saat ini pria itu sudah berada tepat dihadapan Karin dengan setelan celana jeans serta softball berwarna biru. Sejenak Karin memandangi pria yang beberapa waktu belakangan telah mengganggu fikirannya dengan kehadiran sebagai seorang teman.
“Ayat” Pria dihadapan Karin mengulurkan tangan untuk berjabat, perkenalan ala Indonesia
            “Karin” jawabnya singkat menyembunyikan kegugupannya. Tanpa Karin sadari bahwa tangannya mendadak dingin seperti habis menggenggap es batu, Ayat menyadarinya lalu tersenyum
            “Boleh gue duduk?” tanyanya mencairkan suasana malam itu. “
“Oh iya silahkan” jawabnya “Gimana perjalanan nya?” tanya Karin kemudian
            “Ya seru dan sungguh melelahkan, tapi yang penting gue bisa ngejar waktu buat tetap bisa ketemu lo”
Ayat, kamu tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Lalu aku harus mengatakan apa padamu setelah kau sudutkan aku dengan kalimat yang bisa saja membuatku melayang andai kau tau.
            Karin hanya membalas dengan sebuah tawa yang tidak dapat diartikan olehnya sendiri. Yang Karin tau, dia harus tertawa untuk menutup kemungkinan Ayat membaca hatinya yang mulai kacau karna senyuman dan keberadaan Ayat disampingnya.
            Beberapa waktu lamanya Ayat bercerita dan berkenalan lebih dalam lagi untuk mengenal seorang perempuan yang ada disampingnya begitupun sebaliknya untuk ukuran seorang Karin, perkenalan dan pertemuan mereka telah mengubah banyak hal termasuk bagian paling sensitif, Hatinya.
“Gue pamit pulang ya, lo jangan kemalaman tidurnya. Jangan begadang terus ya” demi aku- sambungnya dalam hati.
“Oh okee, lo yang istirahat kan baru dari perjalanan jauh. Pasti lelah”
“Oke deh” ucap Ayat kemudian menyalakan motornya “terimakasih telah bersedia ketemu gue malam ini” sambungnya diakhiri dengan sebuah senyuman lalu pergi
Hati-hati dan semoga akan ada pertemuan lain setelah ini bathin Karin
...

Ayat menutup pintu kamarnya perlahan, melempar tas dilantai, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia menghela napas panjang, matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Otaknya sedang mencoba mendinginkan fikirannya akibat kelelahannya atas perjalanan jauh yang baru saja ditempuhnya.
Ayat bangkit berdiri menuju kamar mandi. Untuk beberapa detik kemudian terbayang kembali olehnya wajah perempuan yang baru saja ia temui, manis
“Gue udah dirumah, siap mandi. Lo tidur ya, gue mau istirahat juga. Thanks buat ketemuannya. Gue bahagia ada didekat lo”
Sebuah pesan singkat dari Ayat untuk Karin yang tengah menanti sejak setengah jam silam~

Tuhan, aku ingin dia Bisik karin dalam hati
Oke, Gue juga mau istirahat. Night balas Karin
...

“Ngampus Rei?” sebuah SMS mendarat pukul 10:00 WIB dihp Karin
“Gak. Gue gak ada jadwal hari ini. Rei?”
“Gue boleh manggil nama lo dengan sebutan Rei kan?”
“Boleh aja sih, tapi kenapa Rei”
“Ya suka aja”
“Tapi nama Gue gak ada unsur ‘rei-rei’ nya”
“Nama Gue ada, siapa tau besok nama Lo kemasukan nama Gue”
“Ha? Maksud Lo?”
“Becanda doang gue, Malam nanti gue kekos lo ya”
“Ngapain?”
“Kangen”
Ni anak frontal banget bilang kangen sama gue, dia gak tau ya kalau gue bisa baperan kalau sikapnya seperti ngasih harapan gini ke gue. Aaaah- lo gak bilang kangen aja gue udah susah banget nahan buat bersikap biasa ke elo. Huuuuh-

...

“Rin. Lo malam ini gak kemana-mana kan?”
“Gak sih, why?” jawab Karin sekenanya. Wajahnya yang tegang menatap layar laptop dan tangannya sibuk memencet-mencet mouse. Dia asyik main Zuma, udah level 12 tapi tetap aja dia gagal terus ngalahin bos yang ada di level itu
“Ntar malam makan diluar yok, ada angkringan baru di Kentungan situ”
“Yah gue gak bisa kemana-mana”
“Lah, kenapa?”
“Ayat bilang ntar mau kesini”
“Ngapain?”
“Gak tau gue, doi bilang kangen”
“Kangen? Mpreeet. Basi”
“Sirik aja lo mblo” Karin menggebrak meja. Bola-bola berwarna-warni di layar laptop-nya masuk ke mulut topeng Indian yang terbuka lebar seakan mengejeknya. Harus kembali ke level 12-1 lagi nih, Capeeeee deh!
“Lo juga jomblo kali”
“Seenggaknya gue punya kecengan, daripada elo. Kalau gak ngegame ya mantengin fanfiction sama BIAS Shinee lo itu”
“Biarin, gue nungguin cowok kayak Minho ngajak gue jadian. Bweeeek”
“Sampai kiamat cowok kayak Minho mah gak bakal lo temuin kecuali dalam mimpi. Bangun mblo”
“Idiiiih, yaudah gue nyari cewek lain aja deh yang bisa nemanin gue nyobain angkringan baru ntar malam. Selamat menikmati, tiati lo di php-in sama siAyat-Ayat itu. Siapa tau doi udah punya cewek, lo kan ga tau”
“Naaan, jahat amat doa lo ke gue ah”
“Ya gue ngomong pait-pait gini biar lo gak terlalu berharap sama cowok kayak doi. Lo kan tau cowok itu semuanya buaya. Nampak yang bening aja pasti ngelirik”
“Gak semua Nan, jangan lo samain semua cowok kayak mantan lo. Indra” Karin meregangkan tubuh nya. Terdengar bunyi yang berasal dari peregangan punggungnya beberapa kali. Nah, bersiap untuk Zuma lagi
“Ah. Malas gue berdebat sama cewek yang fikirannya lagi dipenuhin sama cinta-cinta merah jambu. Gue mandi dulu ya”
Setelah Kinan pergi meninggalkan kamar Karin, kalimat Kinan barusan benar-benar menyita sebagian pemikiran Karin tentang status Ayat. Selama ini mereka dalam tahap pendekatan. Meskipun telah berlangsung lumayan lancar dan tidak ada tanda-tanda bahwa Ayat tengah menjalin hubungan sama seseorang.
“Apa harus gue nanya ke dia udah punya pacar apa belom. Kesannya gue kepengen daftar jadi cewek nya kalau gue nanya. Tapi kalau ga nanya ntar doi udah punya cewek gue dilabrak lagi, dituduh ‘wanita perebut kekasih orang’. Adeuuuh hina banget julukan gue. Ngeriiiii”

...

“Buat lo” Ayat memberikan setangkai bunga mawar biru untuk perempuan yang ada dihadapannya. Keinginan ingin memberikan bunga mengalir begitu saja ketika dia melihat banyaknya cowok berhenti sepanjang jalan malioboro untuk membeli bunga. Bunga untuk orang tersayang
“Repot-repot amat lo bawain gue bunga”
“Gak repot, gue iseng aja tadi kepengen beli”
“Kenapa biru?”
“Karna biru yang paling murah kata penjualnya, hehe”
“Dasar lo perhitungan”
“Ya gak lah, gue becanda. Biru biar gak mainstream aja”
“Yadeh makasih ya”
“Sama-sama”
Angin malam minggu yang gak ada bedanya dengan malam-malam yang lain. Membawa perasaan nyaman untuk sepasang muda-mudi yang tengah diusik hatinya oleh Virus Merah Jambu. Sepanjang jalan Malioboro atau Alun-alun kota Yogyakarta pasti tengah macet dan padat dengan remaja seusia Ayat dan Karin. Menikmati malam yang dijuluki sebagian orang sebagai malam yang panjang, malam panjang karena anak sekolah akan diliburkan pada pagi harinya.
Ayat lebih banyak bercerita, menceritakan lomba dan audisi yang pernah diikuti serta asal mula kenapa Music terutama lagu menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Karin hanya memperhatikan sambil sesekali bertanya lalu tertawa jika Ayat berusaha melucu dan menghibur.
Karin juga baru mengetahui bahwa mereka berasal dari daerah yang sama di sumatra. Hanya saja mereka dipertemukan bukan dalam sebuah kegiatan daerah atau sejenisnya.
Mereka juga saling mengenal bahwa berasal dari keluarga yang sederhana. Dengan persamaan itu Ayat dan Karin lebih saling memahami.
Ayah Ayat seorang buruh pada perusahaan swasta dimana penghasilannya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Sementara ibunya membuka warung kecil-kecilan untuk membantu Ayahnya.
Orangtua Karin berpisah sejak Karin duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar, sejak saat itu seluruh keperluan dan kebutuhan sehari-hari serta biaya hidup Karin dan dua orang saudaranya ditanggung penuh oleh Ibunya sebagai kepala keluarga. Berusaha dan berjuang sendiri membesarkan lima orang anak tanpa suami bukan hanya berat untuk Ibu Karin namun juga butuh kesabaran yang besar.
Tidak ingin terus-terusan hidup dalam kekurangan Karin mencari beasiswa untuk kuliahnya. Tidak mudah mencari beasiswa penuh hingga tamat. Namun, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Dengan ketekunan dan kesabarannya Karin diterima di UNY jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan.
Ayat juga ternyata mengikuti seleksi yang sama untuk beasiswa dengan Karin didaerahnya. Namun mereka belum saling mengenal antara satu dengan yang lain.
“Sepi ya kos lo. Kawan yang lain mana?”
“Kinan sih katanya mau nyobain angkringan baru di Kentungan. Kalau yang lain jalan kali sama cowok nya. Ini kan malam minggu”
“loh ini malam minggu ya? Gue kok baru sadar ya. Maklum jomblo mah gak pernah tau kapan malam minggu” jawab Ayat disertai gelak tawanya ‘menertawakan kejombloannya’
Jomblooooo? My question has been answered !
“Elo jomblo sih, tapi gebetan lo kan banyak”
“Tau aja lo. Udah survey apa aja tentang gue?”
“Idiiiih, apaan. Emang gue seenggak ada kerjaan gitu sampe harus ngestalk lo”
“Lo gak ngestalk gue? Padahal gue ngestalk semua tentang lo”
(Terdiam sejenak)
Ya ampun lo ngestalk semua tentang gue? Apa aja yang udah lo temuin? Lo gak tau apa kalau gue juga ngelakuin hal yang sama. Bedanya lo terlalu frontal buat ngungkapin sementara gue terlalu munafik buat ngakuin.
“Rei. Jadi gimana?” sapa Ayat membuyarkan lamunan Karin
“Ah, nggg anu. Lo nanya apa tadi?”
“Lo mau gak jadi pacar gue?”
“Haaaa” Karin terlihat gagu dan tengah memasang tampang bodoh dan bego ketika Ayat dengan gampangnya nanyain mau jadi pacarnya apa gak. “Bego nya gue, gue ngelamun apa sampai Ayat nembak gue aja gak sadar sama sekali” Bathin nya
“Hahah Rei, tampang lo lucu banget”
“Maksudnya”
“Gue becanda doang tadi, abisnya lo ngelamun mulu gue ngomong lo gak denger apa-apa. Lo ngelamun apa sih?”
“Ha, enggak. Anu sorry, gue lagi gak konsen aja. Ngg itu lo bawa gitar kan? Gak lo mainin? Kasihan tu gitar lo nganggur. Atau lo sama aja kayak anak-anak kekinian jaman sekarang. Gaya-gayaan bawa gitar biar dianggap pandai nyanyi dan pandai main gitar”
“Lo lucu banget sih Rei”
“Lucu apaan?”
“Yaiya, buat apa gue bawa gitar kalau Cuma buat gayaan doang. Lo kira gitar itu ringan buat dibawa sebagai gaya dan ditenteng kemana-mana”
“Kalau gitu mainin dong. Buat gue”
“Lo pengen banget ya gue nyanyiin”
“Ngaco deh. Anggap aja lo lagi ngamen depan gue”
“Berani bayar berapa lo nyuruh penyanyi kelas kakap kayak gue nyanyiin lo lagu pakai gitar?”
“PD banget lo nyebut diri sendiri, penyanyi kelas kakap”
“Jadi manusia itu harus PD dan bangga sama diri sendiri Rei. Kalau bukan diri kita sendiri yang memandang tinggi jangan harap orang lain akan melakukannya”
“Hmm iya. Yaudah kalau lo nyanyinya keren ntar gue bayar pakai hati gue deh”
“Eh beneran lo?”
“Gila, ya gak lah. Intinya lo mau nyanyi apa enggak nih?”
“Iye iyeee. Galak amat buk, ntar lo cepat tua kalau galak-galak”
“Biarin”
Ayat mengambil gitar dimotornya. Sambil berfikir lagu yang tepat buat dinyanyiin didepan Karin yang tengah duduk menantikan suaranya. Lagu buat menyampaikan langsung bahwa dia juga nyaman berada didekat Karin. Meskipun perasaan dihatinya belum begitu kuat dan mampu meyakinkannya bahwa ia telah Jatuh hati.
Ayat mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu. Disampingnya Karin memperhatikan setiap gerak dan meunggu Ayat- bernyanyi-
♫Mengitung hari
Detik demi detik
Menunggu itu kan menjemukan
Tapi kusabar
Menanti jawabmu
Jawab cintamu
Jangan kau beri
Harapan padaku
Seperti ingin tapi tak ingin
Yang aku minta
Tulus hatimu
Bukan pura-pura
Jangan pergi
Dari cintaku
Biar saja tetap denganku
Biar semua tau adanya
Dirimu memang punyaku
Jangan kau beri
Harapan padaku
Seperti ingin tapi tak ingin
Yang aku minta
Tulus hatimu
Bukan pura-pura
Jangan pergi dari cintaku
Biar saja tetap denganku
Biar semua tau adanya
Dirimu memang punyaku

Belum pernah kujatuh cinta
Sekeras ini seperti padamu
Jangan sebut aku lelaki
Bila tak bisa dapatkan engkau
Jangan sebut aku lelaki♫
--- “Mengitung hari 2”, Anda
Karin hanyut dan terbawa suasana dengan nyanyian yang seorang Reynal Alfaryat yang kini tengah memetik gitarnya asal-asalan. Kalau ikut audisi Indonesia Idol sih bisa masuk top ten lah. Fikirnya-
“Gimana suara gue?”
“Hmm, 70” jawab Karin sekenanya. Jika boleh frontal Karin bakal ngasih nilai 90.
“Hanya 70?”
“Iya, kenapa?”
“Teman-teman gue pada ngasih 80 atau 90 untuk setiap lagu yang gue bawain. Dan lo cuman ngasih 70? Gue gak bakal ikut audisi atau lomba yang jurinya elo. Janji gue”
“Hahaha, lo lucu banget. Lagian acara apa yang dengan bodohnya nyuruh gue yang gak tau apa-apa tentang musik buat jadi juri. Ada-ada aja lo Yat” jawab Karin, tawanya meledak tanpa disadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul 21:27 WIB. Bisa dilempar sama tetangga jika Ayat tidak segera menghentikan tawanya.
“Heeeh, lo ngakak sih boleh. Ingat tempat dan waktu juga dong Rei”
“Ups. Sorry sorry” Karin menghentikan tawanya. Hening sejenak
Lo gak pernah jaim ketawa ngakak didepan gue. Gue gak tau gimana perasaan lo sama gue, sama seperti gue yang gak tau gimana perasaan gue ke elo sebenarnya. Gue tau lo cewek baik dan sopan Rei, didepan gue lo apa-adanya. Terimakasih Rei.
“Gue balik ya, udah malam”
“Oh oke deh”
“Lo gak nyegah gue buat tetap tinggal?”
“Hahha buat apa? Kalau udah saatnya lo pergi dan ninggalin gue berarti gue harus ikhlasin dong”
“Tanpa usaha?”
“Kalau masalahnya bukan hati, gue bakal usaha”
“Atau....”
“Atau apa?”
“Lo gak nawarin gue buat nginap?”
“Dasar gila. Sana pulang”
“Oke oke. Gue balik ya. Makasih udah nemanin malam minggu gue”
            “Oke sama-sama. Lo hati-hati. Sampe kos kabarin gue ya”
            “Malas”
            “Yaudah terserah lo”


...
Alun-Alun Utara Jogja (Sourch : Google Image)


Malam yang indah, alun-alun kota Jogja begitu rame dan padat kalau udah malam minggu gini. Ayat memarkir motornya pada parkiran Alun-alun. Niatnya untuk pulang ditunda karna adanya kesempatan yang mungkin dapat memberikannya penghasilan untuk makan esok hari. Ada gitar, ada keramaian. Mari mengameeeeen-
Ayat mulai memetik gitarnya dan meletakkan topi dibawah kakinya. Untuk kepada siapa saja yang berniat memberikannya uang atas jerih payahnya menghibur dengan sebuah lagu

♫Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya


Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya

Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
♫
            ---“Lagu Rindu”, Kerispatih

♫Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku


Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku 'kan bahagia
♫
            ---“Symphony yang Indah”, Once

Setelah lagu terakhir dari Once Ayat melirik ke arah topinya. Penuh dengan rupiah.
“Alhamdulillah, terimakasih buat rezeki yang engkau berikan ya Allah” ucap Ayat bersyukur kemudian mengutip topinya lalu pergi menuju parkiran untuk kemudian pulang.

...

Love is not how we forget, but how we forgive.
Love is not what we see, but what we understand.
And love is not what we hear, but what we feel.
I wan’t you to hear that I love you, but I want you to feel it without Me having to say.
---Stephanie Crush, 1997

♫ It’s not about rainbows and butterflies
It’s compromise that moves us along, yeah
My heart is full and my door’s always opened
You come anytime you want, yeah

I don’t mind spendin’ everyday
Out on your corner in the pourin’ rain
Look for the girl with the broken smile
Ask her if she wants to stay a while♫

            ---“She will be loved”, Maroon5


baca sebelumnya
Sepotong Daun Kering #2

baca selanjutnya 
Sepotong Daun Kering #4

Sepotong Daun Kering #2

2
-We’re Gonna Be Alright-
KARIN tidak berhenti memandang kearah panggung. Ayat masih menyanyikan She’s gone nya Steel Heart dengan suaranya yang khas. Penampilan terbaiknya siang ini tentu sesuai dengan ambisinya untuk menjadi wakil dari kampus yang akan dikirim ke Sulawesi Barat.
♫She’s gone
Out of my life.
I was wrong.
I’m to blame.
I was so untrue.
I can’t live without her love.
♫
            ---cuplikan“She’s Gone”, Steel Heart

Perlahan beberapa butir air mata menetes dengan lancarnya dipelupuk mata Karin. Lelaki yang tengah dengan penuh khitmat bernyanyi didepan itu satu tahun silam masih berada disampingnya sebagai seorang kekasih dan saat ini, dia dan lelaki itu- sebatas penonton dan penyanyi- atau seorang peserta dan panitia.
Cinta ternyata sebercanda itu bisa mengubah posisi dari sangat dekat menjadi – bukan siapa-siapa. Kita- Menjadi antara aku dan kamu
Cinta juga begitu bercanda ketika mengubah yang bukan siapa-siapa menjadi segalanya, begitu juga sebaliknya. Namun tak ada arti jika akhirnya juga berhenti dengan segala alasan yang dibuat hanya untuk mengakhiri sebuah hubungan yang telah dijalin sedemikiannya.
Butir air mata yang tumpah dari sudut mata Karin siang itu adalah bukti nyata bahwa Ayat masih tersimpan rapi didalam hatinya sebagai seorang yang tidak bisa digambarkan oleh apapun, sebagai seorang yang tidak dapat digantikan oleh apapun selama ia mengenal lelaki dalam hidupnya. Bahkan setelah satu tahun lamanya--
Cinta begitu membutakan mata seorang Karin, ada banyak yang bisa ia cintai namun tak pernah terlepas pandangan matanya dengan sesosok yang tengah berada diatas panggung.

♫ Midnight shadows
When finding love is a battle
But daylight is so close
So don't you worry 'bout a thing

We're gonna be alright
We're gonna be alright
We're gonna be alright

Baby don't you know
All them tears gon' come and go
Baby you just gotta make up your mind
That every little thing is gonna be alright
Baby don't you know
All them tears gon' come and go
Baby you just gotta make up your mind
We decide it

We're gonna be alright
We're gonna be alright
We're gonna be alright

In slow motion
Can't seem to get where we're going
But the hard times are golden
Cause they all lead to better days

We're gonna be alright
We're gonna be alright
We're gonna be alright

Baby don't you know
All them tears gon' come and go
Baby you just gotta make up your mind
That every little thing is gonna be alright
Baby don't you know
All them tears gon' come and go
Baby you just gotta make up your mind
We decide it

We're gonna be alright
We're gonna be alright (ooh baby!)
We're gonna be alright
We're gonna be alright, yeah
♫

                        --“Be Alright”, Ariana Grande

            “We’re gonna be alright ya Yat, Seharusnya” bathin Karin dalam hati. Mata Karin dan Ayat bertemu untuk beberapa detik dan kemudian Ayat mengalihkan pandangannya kepada penonton lain dibawah panggung, rasa grogi dan gugupnya sebelum naik kepanggung beberapa menit lalu telah hilang setelah melihat betapa antusiasnya penonton atas penampilannya pada lagu pertama tadi.
Karin terus memandang ke arah Ayat setelah menunduk beberapa detik ketika matanya dan mata Ayat bertemu. Masih dapat dimaklumi, hatinya yang menyimpan Ayat begitu rapat telah menghancurkan kepura-puraan tegarnya setahun belakangan hanya untuk menunjukkan bahwa ia akan tetap berdiri meskipun Ayat membuangnya demi perempuan lain. Janjinya-
Ayat, begitulah orang menyebut namanya. Bernama lengkap “Reynal Alfaryat”. Seorang yang mempunyai banyak kekurangan namun sempurna dimata seorang “Alifa Karina Agatta”. Tidak lepas dari kalimat yang mengagumkan dan membanggakan dari segala sisi kehidupannya. Menjadi alasan kenapa mimpi tidak jauh lebih indah daripada kenyataan ketika bersama dengan seorang Ayat.
Kau sempurna. Jika aku menghalangi kebersinaranmu untuk sukses maka meninggalkanmu akan kulakukan dan kuikhlaskan demi terciptanya kehidupan impianmu meskipun itu telah membunuh kebahagiaan dan impianku
Kau sempurna, Jika akhirnya aku tidak pantas mendampingimu maka pilihlah pendamping yang sepantasnya mampu kau banggakan dalam setiap kehidupannya. Aku hanya seorang yang akan selalu bangga dan mendukungmu, sampai kapanpun kau inginkan-
Jika tetes hujan hadir hanya untuk merendam sebuah perkampungan maka apakah kemarau panjang menjadi doa yang akan mereka panjatkan? Tentu tidak.
Jika matahari bersinar hingga panasnya terasa di ubun-ubun lantas apakah manusia berharap matahari tidak akan pernah muncul lagi? Tentu tidak.
Itu yang tidak pernah bisa kumengerti—aku, kamu, takkan pernah baik Jika menjadi kita. Lalu apakah aku lantas berharap akan ada orang lain yang bisa menggantikan tempatmu? Kau tentu tau jawabannya-

...

♫ Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujamu

Disetiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupmu tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
hanya bersamamu kuakan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku Kau begitu, Sempurna ♫
            ---“Sempurna”, Andra & the Backbone
...
Tepuk tangan meriah memenuhi Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Negri Yogyakarta yang diset sebagai tempat audisi solois dilaksanakan, setelah penampilan Ayat akan ada 34 peserta lainnya yang sedang menunggu giliran. Ayat sudah turun dari panggung, beberapa suara perempuan terdengar sedang menyebut dan meneriakkan namanya Ayat.. Ayat.. Ayat..
“Blank, Lo gapapa?” tanya Ditto setelah memperhatikan sahabatnya termenung agak lama
“Yaelah, Gue biasa aja. Emang gue bakal kenapa?”
“Ya, siapa tau Lo klemer lagi itu cowok nyanyi didepan Lo”
“Bukan klemer lagi Dit, gue emang selalu klemer sama doi. Lo tau lah, suara doi masih bikin gue lemah Dit”
“Ahelah, lebay lo ah”
“Ember” jawab Karin sambil mencibir Ditto sahabatnya
“Mumpung masih nampil, kita makan dulu yuk. Dari pagi kita belum makan apa-apa ini” ajak Ditto
“Oke deh. Lo traktir gue yak”
“Kagak, nraktir lo ngabisin belanja seminggu gue”
“Pelit”
Ditto dan Karin baru saja akan melangkah menuju kantin UNY ketika sesosok pria tinggi berdiri dihadapan mereka “Ayat”
“Mau kemana Rei?”
“Kekantin nih, nyari makan, kamu mau ikut?”
“Ga ganggu?”
“Haha apaan sih, biasa aja. Ganggu itu kalau kamu minta traktir. Ya kan Dit?” jawab Karin sambil bertanya meminta persetujuan sahabatnya yang disambut dengan anggukan persetujuan Ditto.
“Iya ikut aja lagi, makin rame makin seru. Gue juga berdua Karin, ya lo tau lah dia makannya mirip monster ngabisin tempat, ntar disangka orang gue yang makan besar”
“Null” ucap Karin marah
“Oke deh. Yuk Yat” ajak Ditto sebelum sahabatnya itu benar-benar ngamuk. Diikuti dengan langkah Ayat dibelakangnya sambil geleng-geleng kepala

...

“Gue mendadak kenyang nih, gue gak makan deh ya” bisik Karin kepada Ditto sesaat sampai dikantin UNY
“Gak usah lebay lo eek beruang, kalau lo gak makan gue suruh Ayat balek ke PKM nih gak usah makan bareng kita” terang Ditto marah. Kebiasaan mereka memang ketika lagi marah, kesal atau sekedar bercanda mengungkapkan segala hal yang berkaitan dengan hal-hal tidak masuk akal dan konyol. Seperti : eek beruang, upil kuda, jigong cacing, dan lain-lainnya.
“Yoi, Oke oke gue makan”
...
Karin memesan nasi goreng porsi kecil, Ditto sedang mengambil nasi prasmanan dengan lauk yang sudah dapat diduga, Ayam bakar- sementara Ayat terlihat sedang memesan jus buah naga dan burger porsi large-
“Rin, lo gak mesen jus”
“Kagak, ini aja gue udah kenyang banget”
“Lo, biasa aja kalau didepan dia. Gue gak suka lo kayak gini deh. Makin gede kepala aja dia ntar, udah ngebuang lo sementara lo masih aja cinta sama dia. Ah bego deh”
“Siapa yang bego bang?” tanya Ayat yang ternyata udah dibelakang mereka
“Oh, Ini nih si Karin. Padahal gue mau nraktir, dia makannya cuma nasi goreng” cetus Ditto spontan seketika terkejut Ayat sudah ada dibelakang mereka
“Haha, kalau gitu abang traktir jus ama burger gue aja”
“Sorry Yat, kita gak kenal” jawab Ditto yang kemudian disambut gelak tawa ketiganya. Hingga mereka terdiam untuk menghabiskan makanan yang telah mereka pesan masing-masing.
...
“Rei, Kamu sekarang sibuk apaan?” tanya Ayat
“Biasa, project nulis dia” sambar Ditto
“Apaan sih bang, enggaklah. Aku masih mahasiswa (Kupu-Kupu) Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang ga lebih” jawab Karin kemudian “Kamu?”
“Ya biasa, paling ikut lomba nyanyi sana-sini”
“Masih ngamen?”
“Udah enggak, gak ada yang mau nemanin aku”
“Ajak Karin aja Yat, tadi doi bilang kan gak ada kerjaan selain kuliah” Sodor Ditto
“Kamu mau nemani aku ngamen lagi Rei?”
“Eh, gak gitu jugak. Aku emm Gue, maksudnya aku gak bisa nemanin kamu”
“Kenapa?”
“Ya gabisa aja. Aku sibuk, kan bang” jawab Karin sambil menyikut Ditto disebelahnya
“Kita emang sibuk apaan?” tanya Ditto polos
“Acara kita sampai akhir tahun ini masih padat banget, gue mana ada waktu buat agenda lain” cerocos Karin kepada Ditto “Kamu nyari teman lain aja, siapa kek. Juna, Putra, Oing, Yona atau Uun. Temen kamu kan banyak. Ya” sambungnya lagi
“Oh yaudah deh. Tapi kalau kamu ada waktu buat nemenin aku kabarin ya, nomerku masih yang lama kok ya”
“Ga janji ya” jawab Karin singkat “eh, kita udah lama banget nih ninggalin PKM, jangan-jangan gue udah dicari banget sama panitia lain”
“Ye, GR banget kamu Rei” ucap Ayat, sambil mengusap kepala Karin, Ditto hanya memandang pemandangan dihadapannya tanpa ekspresi. Terbayang olehnya setelah ini sahabatnya bakal kesenangan sampai beberapa hari kemudian, bukan hanya gagal move on tapi niat untuk move on nya sudah hancur berkeping-keping bagaikan sebuah vas bunga yang jatuh kelantai hanya karna sebuah usapan kepala.
“Nuuuuuul” ucap Karin kemudian
“Gue tau, udah alay-alayan nya ntar aja deh. Acara kita masih nunggu buat diberesin”
“Nuuuuuuuul”
“Yok balik” ucap Ditto yang kemudian menarik kencang tangan Karin membuyarkan hayalan indah bakal balik lagi sama Ayat setelah lomba Solois ini selesai

...

Perlombaan solois selesai Pkl. 22:00 WIB dengan pemberian hadiah, Reynal Alfaryat. Begitu MC memanggil nama pemenang juara I.
Ayat menebarkan senyum manis dan melambaikan tangan kearah teman-temannya. Yeah, gue memang pantas digemari, batinnyaa. Terbayang olehnya setelah ini namanya akan semakin melambung dan dikenal baik dikalangan fakultasnya maupun oleh kalangan universitas.
Upacara pemberian hadiah berlangsung meriah dan lancar. Hal seperti ini yang sangat disukainya. Ada banyak ucapan dan selamat yang bakal dia dapatkan setelah kemenangannya hari ini.
Sekilas dia melihat seorang yang sempat ngebuat harinya berwarna, perempuan itu tengah membereskan alat-alat yang dipakai untuk perlombaan barusan. Kamu gak mau ngucapin apa-apa ke aku Rei?
Karin memandang dan memperhatikan Ayat yang tengah berfoto bersama juri dan pemenang lainnya sambil membereskan panggung dan alat-alat lainnya. Tidak terasa setetes air mata mendarat dipipinya.
Kamu gak pernah berubah, kamu masih sama. Tetap membuatku takjub dan bangga, selalu sampai kapanpun. Selamat Yat, aku hanya bisa memandangmu menemui kesuksesanmu tanpa bisa berada disampingmu untuk mendampingi setelah izinku kamu cabut.
“Ciyee, kekasih lo menang tuh Rin” goda Yorri
“Ah ribut, doi menang juga gue gak dapat apa-apa”
“Kenapa? Lo mau dipeluk dia juga?”
“Ngomong apaan sih Lo, gak pakek filter banget tu mulut”
“Wo wo woooo marah, lanjutkan tu kerjaan lo. Yang bener jangan mandang kepanggung mulu, ntar kesentrum”
“Iye iyeeee”

...

“Bro, selamat” Ayat menerima uluran tangan, pelukan, dan tamparan sahabat-sahabatnya yang begitu bahagia atas kemenangan yang didapatnya.
Ayat berusaha keluar dari kerumunan sahabat-sahabatnya dan bergegas menuju sasaran sebelum wanita didalam Toyota Yaris itu kabur. Ia mengetuk kaca mobil sebelum membuka pintunya. Begitu duduk didalam dan memandang cewek yang ada dibelakang setir, Ayat melongo takjub.
Makin kemilau aja ni cewek. Bola matanya yang besar dan bulu matanya yang tebal dan lentik. Hidungnya mancung dan bibirnya yang indah. Serta lesung pipinyaaaa, uhhhh!
“Masih pengen nyalamin cewek-cewek didalam PKM ya?” melihat ke arah luar mobil
“Kamu cemburu?”goda Ayat
“Enggak lah”
“Mereka gak lebih penting dari kamu Yol” godanya “Piala yang aku dapat ini buat kamu” lanjutnya kemudian
Fiona mendadak grogi dan salah tingkah dengan kondisi AC yang sudah menyala. Aduuuh, panas banget Jogja.
Fiona Arista Yola, anak Wakil Rektor I Universitas Negri Yogyakarta. Yang dikenalnya ketika satu bulan sebelum anniversary ke dua kalinya sama Karin satu tahun yang lalu.
Terakhir dia mengetahui bahwa gadis itu adalah putri pertama dari Wakil Rektor I. Kehidupannya yang glamour dan dihadiahkan dengan banyak barang mewah tidak lantas membuatnya gengsi pacaran dengan seorang Ayat yang bukan siapa-siapa. Bersama Fiona juga Ayat lebih sering menemaninya daripada ngamen untuk mencari uang seperti biasanya.
Bersama Fiona juga Ayat dapat tawaran untuk mengisi live music pada salah satu cafe di Jogjakarta. Meskipun begitu, sesekali Ayat rindu ingin ngamen dialun-alun kota lagi bersama seorang gadis yang tidak hentinya memandang wajahnya serta membantunya dalam memegang kotak uang, Karin-
“Nanti malam kamu ku jemput ya” pinta Fiona
“Mau kemana?”
“Temani belanja” rengeknya kemudian
Belanja, ya hanya kalimat itu yang diketahuin Fiona selain ke Salon. Beda sekali dengan wanita yang sebelumnya. Yang justru sibuk dengan kegiatan sosial, organisasi dan segala jenis projectnya.
“Iya deh” jawab Ayat
“Yaudah aku pulang ya, kamu jangan lama-lama ngumpul sama cewek-cewek itu. Aku gak suka”
“Iya My Fairy Beauty” jawab Ayat singkat lalu keluar dari mobil untuk kemudian kembali kedalam gedung PKM UNY bergabung bersama teman-teman yang telah menunggu.
“Cewek lo?” tanya Juna
“Yo’i”
“Dia gak mampir?”
“Cemburu katanya gue deket-deket sama cewek disini” jawab Ayat
“Cewek lo lebay banget deh. Kalau dia tau Karin ada disini apa ya pendapat nya?”
“Udah deh, gue malas ribut sama dia. Gue capek ngadapin cewek-cewek. Jangan ngerusak mood gue”
“Iya” jawab Juna singkat “Malam ini kita ke alun-alun yok. Udah lama juga kita gak nongkrong di alun-alun” ajak Juna yang kemudian disetujui sama yang lainnya
“Boleh” sambung Laras, wanita berparas Timur tengah dengan hidung mancung dan pipi tirus.
“Lo bisa kan Yat?” tanya Juna kemudian
“Bisa kok”
“Yeeeeeee” teriak yang lain bahagia tapi tentunya tidak dengan Ayat, Fiona tidak akan menerima apapun alasan untuk pembatalan agenda malam ini.
Bagaimana caranya menjelaskan bahwa aku tidak akan menemaninya ke Mall malam ini? Bathin nya
...

 “Hai, aku mau foto bareng kamu boleh?” tanya Ayat menghampiri Karin yang tengah merapikan microfon dan sound system
“Foto bareng aku Yat?”
“Iya. Boleh gak nih?”
“Harusnya nih aku yang minta foto bareng sang juara. Ya boleh lah”
Satu duaaa KLIK. Satu foto malam itu menjadi foto yang berharga bagi Karin. Seenggaknya ini adalah foto pertama setelah hubungan mereka berakhir setahun silam.
“Selamat ya Yat, kamu memang pantas menjadi kebanggaan keluargamu”
“Terimakasih, kapan-kapan aku traktir kamu ya. Banyak bantuan kamu sampai aku bisa juara”
“Gak usah deh, aku gak bantu apa-apa juga kok”
“Rei...”
“Aku mau ngerjain yang lain dulu ya, tuh pacar kamu nungguin. Ntar dia pasang pengumuman di televisi dan koran-koran lagi, berita orang hilang”
“Ada-ada aja kamu Rei, dia gak bareng rombongan Juna kok”
“Nanti kuhubungi ya” ucap Ayat sedikit berteriak karna Karin sudah bergerak menjauhinya yang kemudian dibalas dengan isyarat oke oleh Karin.
...
“Gimana rasanya Foto bareng?” tanya Ditto yang menyaksikan sesi foto antara sahabat dan mantannya itu
“You know lah what I feel”
“Kelihatan banget lo masih cinta sama tu cowok Rin, mau sampai kapan lo blak-blakan nunjukin perasaan lo ke doi? Doi juga gak sebodoh dan sebuta itu untuk bisa ngebaca perasaan lo ke dia. Lo ga bisa natap dia aja udah menjelaskan perasaan lo ke dia. Lo masih berharap aja sama dia sampai sekarang. Lo itu sahabat gue, kalau lo sakit gue juga susah. Udah ya, jangan hobi nyakitin hati lo terus, kasihan hati lo. Lo bisa aja bilang lo kuat, tapi kasihani hati lo jugak, bego”
“Makasih Null. Gue bakal coba hindarin dia ya. Lo juga tadi kenapa nyodorin gue kedia buat nemenin doi ngamen”
“Abisnya lo sering banget cerita kepengen ngamen lagi bareng dia”
“Ya tapi gak gitu juga”
“So?”
“Ribet ngomong sama lo. Satu sisi lo nentang banget gue deket, nah sisi lain lo maksa gue sama-sama dia”
“Ya gue bisa apa. Kebahagiaan lo itu dia. Gue gak sepenuhnya benci sama dia. Gue tau mutusin lo dan macarin Yona itu adalah hak dia. Gue juga tau dia sebenarnya cowok baik, kesalahannya cuman karna ninggalin lo. Tapi gue juga kesal kalau lo harus sedih karna nerima kenyataan bahwa dia udah gak bisa lo gapai. Bahwa dia itu kekasih orang”
“Lo emang sahabat terbaik gue Dit, bantu gue ya”
“Bantu apaan?”
“Bantu move on”
“Kalau lo gak niat mah susah”
“Niat gue”
“Gak yakin”
“Percaya deh”
“Ah udah deh, yok pulang. Biar yang lain aja deh ngeberesin ini, lo udah kerja dari kemarin”
...
Gue bukan gak ngizinin lo buat temenan sama Ayat Rin, gak akan ada namanya lo benar-benar nganggap dia teman. Gue yang bakal jamin, lo gak pernah bisa nerima dia buat jadi teman lo. Gue gak mau lo ngayal terus untuk sesuatu yang ga mungkin bisa lo gapai lagi. Lo juga tau kalau deket sama dia hanya bisa nyayat luka yang udah seharusnya kering. Jadi mending lo nerima pait-paitnya kalimat gue sekarang daripada nanti waktu lo nerima undangan dia sama ceweknya yang sekarang.
Lo gak usah nyiksa hati lo terus. Hidup lo indah tanpa harus mikirin hal gak pantas lo pikirin. Masih ada cita-cita yang bisa buat lo bersinar dengan segala kelebihan lo. Lo hebat. Dan jangan rusak kehebatan lo itu sama air mata, satu tahun bukan waktu yang singkat buat lo untuk terus mandang dia dari jauh, bukan waktu yang singkat buat terus mendoakan dia, buat terus ngasih support yang udah seharusnya gak ada. Lo harus bangkit, benar-benar hilang dan menghapus bayang dia.
Bagi gue Move on lo itu WAJIB dan HARUS. Gak ada kata nangis lagi abis ini Rin. Lupakan.!
Ditto begitu berapi-api ketika berdebat dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Tiada alasan baginya untuk tidak mengingatkan sahabatnya. Masih teringat ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa terpukul sahabatnya itu di tengah alun-alun kota Jogjakarta tengah malam. Meskipun dihadapan Ayat dia terlihat begitu tegar dan tak terluka dengan sikap Ayat yang telah menduakannya, satu tahun silam.
♫Tak pernah aku membayangkannya
Bila insan sedang patah hati
kali ini ku rasakan sesungguhnya
Siang hari kubagaikan malam
Pelangiku berwarna kan kelam
Inikah yang dinamakan patah hati
Tak ingin kujalani
Cinta yang begini
Yang kutau cinta itu indah♫

              --“Yang Kutau Cinta Itu Indah”, Afgan ft. Nagita Slavina


baca sebelumnya
Sepotong Daun Kering #1

baca selanjutnya
Sepotong Daun Kering #3