APRIL - DESEMBER (Chapter VII)

Chapter VII



APRIL
            Aku menjemput Mama di Bandara. Mama memaksa pakai taksi. Bagiku itu hal yang tidak biasa: membiarkan Mama dengan taksi sampai kerumah. Aku menghampiri Mama yang mendorong kopernya menuju pintu keluar. Ku salami dan mengambil alih koper Mama.
            “Gimana Jakarta Ma?”
            “Masih sama. Kamu gimana disini? Makan gimana? Udah? Tadi sarapan apa?” Mama mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar ‘seakan-akan’ aku Anak Mami banget
            “Ma, April Okay” Ku genggam tangan Mama memastikan bahwa aku baik-baik saja tanpa kurang. Bagi Mama, I’m still a child. “April udah segede ini Mah” sambungku
            “Pril” ucap Mama lirih
“Ya” jawabku beralih pandangan, ada nada ‘aneh’ yang tidak biasa. Kulihat Mama diam tak bersuara. Ku tunggu beberapa waktu, Mama masih tidak bersuara. “Mama tunggu disini ya, Mas ambil mobil” ucapku, sambil setengah berlari ke arah parkir mobil yang tidak jauh.
Diperjalanan Mama bercerita tentang kesibukan Mbak Nana mengurus boutique pribadi nya daerah Jakarta Pusat. Sebentar lagi Jakarta Fashion Week. Walaupun Mbak Nana nggak terlibat didalamnya. Jakarta fashion week udah seperti pusat fashion pada musimnya. Banyak boutique- boutique menyewa counter yang disediakan. Mbak Nana biasanya selalu datang dari pembukaan hingga penutupan acara. Alasannya sama seperti yang lain “Mengintip mode”. Mbak Nana bilang, itu peluang emas untuk hampir semua designer. Dan segala-gala macam fashion-fashion yang nggak bisa kusebutkan satu persatu.
“Kamu langsung balik kantor Pril?” tanya Mama membuka percakapan
“Iya Ma, nggak papa ya”
“Tadi Mama bilang nggak perlu jemput”
“Nanti kalau Mama dibawa kabur sama supir taksinya, April susah cari Mama baru” jawabku lalu tertawa
Tawaku berhenti ketika kulihat Mama sedang memandangiku. Tidak seperti biasanya. “Kenapa Ma?” tanyaku heran
“Mama tinggal seminggu kamu banyak berubah Pril” jawab Mama sambil mengusap kepalaku
“Berubah apanya? Jadi power ranger?” tanyaku asal
“Udah bisa tertawa” sambung Mama lalu mengalihkan perhatiannya ke jalanan
            Kalimat terakhir Mama seperti sebuah pisau tajam tanpa ujung. Aku ingat terakhir aku mengantar Mama kebandara, ucapan kami hanya sekedar obrolan serius. Atau obrolan seperti “jangan lupa makan” dan blablabla. Selama seminggu seakan Mama ingin menyadarkanku bahwa ada hal-hal yang tak seharusnya berkembang dalam diriku. Selama seminggu. Kuputar kembali rekaman di memory otakku. Apa yang terjadi selama seminggu terakhir? Apa yang kulakukan selama seminggu Mama di Jakarta? Siapa yang kutemui selama seminggu?
            Tidak kutemukan alasan dan jawaban lain. Hanya satu “Wanita berkulit gelap berkemeja pink” yang kini sudah kupinang untuk menjadi bagian yang tidak ingin kuhilangkan dari hari-hariku. Sejak kembali dari Hypermart, aku sudah jatuh cinta pada wanita itu. Sejak dia memilih untuk mengambil kunci mobil dan bukan-nya dompet. Sejak itu, hatiku yakin jika dia menjadi pendampingku tidak ada bagian dalam dirinya memikirkan bagaimana cara menghabiskan apa yang kupunya. Menghancurkan apa yang kubangun. Karna sejak detik itu aku memutuskan untuk memperjuangkan wanita sepenting dia.
            Mobilku memasuki area perumahan. Setelah penjaga gerbang (baca: satpam perumahan) membuka portal kubunyikan klakson sekali dan kemudian menuju rumah. Mama pasti lelah
            “Mama langsung istirahat ya. Nanti pulang kantor April langsung balik”
            “Ya” jawab Mama singkat.
            Setelah Mama masuk kamar kuminta Mba Yanti membuatkan teh hangat dan diantar kekamar Mama. Aku pun langsung kembali kekantor. Sudah sejam lebih, jam istirahat Makan siang juga sebentar lagi usai. Bagiku korupsi waktu harus diberantas. Bukan membicarakan agama, aku tidak mengerti benar tentang dosa. Aku hanya belajar bagaimana Papa dengan sangat baik memaksaku menghargai bahwa waktu lebih berharga dari apa yang kita punya. Karna uang bisa dicari tapi waktu takkan pernah kembali.
            Kelak, ketika kau sudah tua. Menjadi gagal akan lebih baik dibandingkau kau akan menyesal karna tidak mencoba apa-apa. Kelak, ketika kau sudah tua. Kau akan benar-benar sadar bahwa ada banyak hal yang tidak kau kerjakan
            Itulah kenapa aku tidak pernah membuang waktuku sedetik saja. Jika aku menerima gaji dengan jam kerja 8 jam sehari. Maka aku akan bekerja dengan waktu itu, tidak lebih dan tidak kurang. Datang tepat waktu dan pulang tepat waktu. Tidak membawa pekerjaan kerumah dan tidak membawa urusan rumah ke kantor. Untuk alasan itu juga mungkin beberapa teman kantor ‘tidak menyukaiku’. Menganggap aku terlalu jujur dan ‘susah diajak ketengah’, mereka sering bilang hidupku monoton dan hambar.
            Banyak honorer kantor yang cantik dan masih gadis sering mencoba menarik perhatianku. Seperti meminjam stapler, meminta tinta print dan pekerjaan recehan lainnya. Berlalu lalang dihadapanku. Dengan pakaian serba ketat dan dada membusung. Bukan tidak kuperhatikan tingkah konyol dan bodoh mereka. tapi tidak satupun menarik perhatianku. Beberapa ada juga yang mencoba menghubungiku. Sekali, dua kali, tiga kali. --Tidak kuangkat-- Lalu mengirim pesan singkat –Tidak kubaca- (mereka terabaikan).
Mungkin saja bagi mereka menjadi istri pegawai sepertiku adalah hal paling menjanjikan. Cara paling singkat menjadi kaya dan dihormati. Para orangtua juga pasti sangat mendukung karna punya menantu pegawai akan sangat membanggakan seperti memiliki menantu dokter atau polisi. Padahal bagiku sama saja. Bagiku bangga itu karna prestasi sendiri.
Jangan lupa makan cik kukirim pesan lewat Line padanya. Beberapa artikel mengatakan bahwa menunjukkan perhatian kepada orang spesial akan membuat hatinya luluh

DESEMBER
            Sudah seminggu sejak aku memutuskan dekat dan menjalin hubungan dengan si Mas mas tak berekspresi. Pagi di keesokan harinya setelah menemaniku ke Hypermart, sebuah pesan sangat mengejutkan masuk kedalam akun Line ku. Pesan itu berbunyi “Mas mau mulai hari ini kita menjalin hubungan. Terserah kamu mau menyebutnya apa. Mas nggak pandai menyatakan cinta”
            Aku mengernyitkan dahi. “UDAH? GINI DOANG? Are you seriously PRIL?” bagiku yang masih nakal dan suka mempermainkan perasaan manusia, diperlakukan sedatar ini untuk menyatakan cinta tidak etis dan tidak seperti bayanganku. Lelaki seganteng dan sekeren dia benar-benar menghancurkan adegan romantis layaknya ftv yang sering kutonton dulu. Seketika kegantengan dan ketampanannya berkurang, dari 98% menjadi 20%. Aku ciut apalagi nyali dan mentalku. Akhirnya kubalas dengan satu kata”OKE” = semudah itulah menjadi pasangan
            Hari-hariku menjadi suram, tak bergairah dan tidak berwarna. Ia, lelaki monoton. Tidak tertawa juga tidak merasa lucu ketika aku melawak. Tidak hanya aku, bahkan Opera Van Java tidak membuatnya bergeming. He’s really flatman, hatinya dari batu, dan kotak tertawanya seperti Spongebob = RUSAK.
            Siang ini aku akan makan siang bersama sahabat-sahabatku. Ia, Awi, Maru, Mita. Sebuah pesan singkat masuk ke Lineku “Jangan lupa makan cik” tentu saja. Darinya si lelaki flat. Keusilanku muncul seketika. Ku balas chatnya dengan “Aku sudah bukan anak TK yang makan harus diingatkan, jika ingin aku akan makan dan jika tidak aku tidak makan”. Jawabku
            Lalu di balas “Yaudah itu hak kamu cik” (Oh tuhaaaaaaan, terenggut sudah masa mudaku yang bahagia)

APRIL
            Wanita itu membalas dengan Aku sudah bukan anak TK yang makan harus diingatkan, jika ingin aku akan makan dan jika tidak aku tidak makan aku tidak tau bahwa artikel yang kubaca adalah artikel dengan kebenaran minim mendekati nol persen. Buktinya wanita diseberang sana tidak luluh, ia sama tegasnya denganku. Pemikirannya sama denganku, aku juga akan membalas dengan kalimat yang sama jika seandainya dia melakukan hal yang aku lakukan (Baca: mengingatkan makan). Bagiku waktu yang berlalu sia-sia beberapa menit yang lalu seharusnya bisa kugunakan untuk hal lain
 

CHAPTER VI <--Sebelumnya--Selanjutnya--> CHAPTER VIII 

APRIL - DESEMBER (No Chapter)






























ASSALAMUALAIKUM. SAYA DESI PERMATASARI. UNTUK SEMUA TULISAN APRIL-DESEMBER YANG DI POSTING DARI CHAPTER I s/d SELESAI. ADALAH TULISAN KAMI BERDUA. SAYA SBG DESEMBER DAN MAS BIMA SBG APRIL. YANG KEMUDIAN KAMI SEPAKAT UNTUK MEMPUBLIKASI KARNA BAGINYA DAN BAGI SAYA SETIAP MOMENT DAN CERITA KAMI ITU BERHARGA SEHINGGA KAMI MENUANGKANNYA DALAM BENTUK TULISAN.




























APRIL - DESEMBER (Chapter VI)


Chapter VI


APRIL
            Aku membeli sebuah kemeja warja hijau polos: pilihannya. Ini bagus. Ujarnya hampir berteriak. Ketika beberapa orang beralih pandangan ke arahnya. Ia menutup mulutnya. Lucu sekali. Kulihat kemeja yang dipegangnya. Lumayan
            “Ini bagus Mas. Esi suka warna nya. Kalau Mas pake pasti keren. Eh tapi Masbim pake apa juga bagus sih. Udah ganteng dari lahir mah” cerocosnya kemudian
            “Iya, Mas ambil ini” jawabku kemudian. Aku tidak tahan jika ia harus bercerita panjang lebar lagi tentang kegantenganku yang hakiki ini. Lalu aku tertawa, ia memandang heran kearahku. Ku kernyitkan dahiku. Seakan mempertanyakan “ada apa?”dia hanya menjawab “Nothing” lalu berlari kecil menuju jejeran dasi. Dan berseru “Massss. Iniiii” sambil menunjuk sesuatu. Aku hampir malu di buatnya. Seperti membawa seorang gadis desa dengan rambut di kepang dua mengenakan rok selutut dan kemeja polos dengan kancing lengkap. “Iya” jawabku seraya menghampirinya. Lalu kubisikkan sesuatu “Kamu jangan teriak-teriak. Disini banyak yang liat. Nanti kamu disangka anak SMA yang om om culik. Mas malu” jelasku sambil melirik genit
            Kulihat ekpresi wajahnya berubah. Ia lalu diam tanpa kata dan mengangguk. Lalu memandang ke arahku dan memandang ke arah kaca didepan kami. Entah apa yang ia fikirkan kemudian ia mengajakku pulang. “Kita pulang aja. Beli sabun nya enggak jadi. Masih banyak kok” ucapnya sambil tersenyum. Tapi kulihat senyum itu tak setulus biasanya. Getir. Ada irama kesedihan didalamnya. Tentu ia gelisah dan tengah memikirkan sesuatu. Adakah ucapanku yang salah?
“Kenapa pulang?” tanyaku sambil menatap matanya. Aku sudah seperti seorang ayah yang tengah membujuk anak gadisnya yang sedang merajuk
“Gak kenapa-kenapa kok” jawabnya masih tersenyum
“Pasti kenapa-kenapa?” tanyaku kemudian
“Kok gitu?”
“Iya, tadi esi senang nemenin mas pilih baju. Sekarang langsung pengen pulang” tanyaku. Kuraih tangannya. “Kenapa?”
“Abisnya kita beda. Tu liat Mas bajunya bagus. Jamnya mahal. Sendalnya ber-merk. Celananya. Kacamatanya juga. Itu juga” jawabnya sambil menunjuk wajahku.
“Apa?” tanyaku polos
            “Mas wajahnya Ganteng. Ni liat Esi” kuliat bibirnya cemberut seperti anak kecil yang minta dibelikan sesuatu tapi ayahnya nggak mau kasih
“Ya iya. Nanti kalau esi Ganteng orang-orang yang nge-liatin Mas enggak suka lagi. Dikiranya Mas suka sejenis” jelasku sambil tersenyum hampir tertawa
“Eh bukan gitu” jawabnya gelagapan. “Maksudnya..” belum sempat ia menjelaskan panjang lebar ku kepit bibirnya dengan jemariku. “Udah, yok temenin Mas bayar ini”
Selesai membayar dia memandang ke arahku. Dalam sekali. “Apa?” tanyaku
“Mas gak malu jalan sama Esi?”
Pertanyaannya menyadarkanku. Beberapa menit yang lalu kata itu lah yang mengubah ekspresi cerianya: MALU. Ada kalimatku yang mengandung kata itu sehingga menyinggung hati-nya. Ada hal-hal sensitif dalam dirinya yang sudah kusentuh. Ada kata yang mungkin membuatnya bertanya begitu dalam hingga akhirnya dengan getir ia bertanya “Adakah aku malu jalan dengannya”.
“Enggak, kenapa harus malu?”
            “Iya abisnya Mas...” belum sempat ia cerocos panjang lebar seperti tadi, kalimatnya berhenti dan mengubah topik “Mas mau itu” tunjuknya. Ku ikuti arah telunjuknya. GERAI ES KRIM
Persis seperti membawa anak gadisku ke dalam Mall. Fikirku kemudian mengangguk meng’iya’kan permintaannya. Ia senang bukan main. Melupakan setiap kalimat yang kulontarkan dan telah menyakiti hatinya.
“Mas jugak?” tanyanya padaku
            “Enggak. Esi aja” jawabku singkat
            “Oke. Mbak dua ya. stoberi sama coklat”
            “Kamu aja cik. Mas enggak” bisikku “Mbak satu aja” ralatku pada si penjaga gerai es krim
            “Dua” bantahnya
            Kupandang ia. Ia balik memandangku. “Esi mau dua” jawabnya kemudian dengan mata berbinar. Lucu sekali
           
“Iya mbak dua ya” jawabku lagi. Lalu mengeluarkan sejumlah uang.
            “Mas, Makasih udah traktir” ucapnya senang. Ia lalu berjalan mendahuluiku. Duduk di kursi-kursi sponsor yang di letakkan ditengah Mall.
            “Capek?” tanyaku kemudian
            “Lagi makan, ndak boleh jalan-jalan” jawabnya santai. Aku terdiam. Dari awal aku mengenalnya, dalam fikiranku dia adalah wanita tanpa tata krama yang baik. Tapi kali ini, ia mengajarkan hal-hal dasar yang Mama selalu ajarkan. Kalau makan itu duduk.
“Kenapa?” tanyaku bodoh
            “Nanti Allah marah” jawabnya singkat
Aku mengecek handphoneku yang kuingat telah ku silent sesaat sebelum masuk SKA tadi. Mengecek e-mail dan beberapa group WA. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Tentu: MAMA. Ku hubungi kembali
Ya Ma, kenapa? Tadi Hp mas silent
Kamu lagi dimana?
Di SKA Ma
Ngapain?
Tanya mama
Beli kemeja.
Oh. Sendiri?
Tanya Mama lagi. Aku terdiam
Sama temen jawabku kemudian setelah beberapa saat
Temen? Tanya mama. Lalu diam beberapa saat Yaudah nanti pulangnya hati-hati
Ya Ma, titip salam sama Mbak
HANA
            Mama datang mengunjungiku dan anak-anak rutin hampir sebulan sekali, memang sudah rutinitas Mama begitu sejak Papa di panggil Allah. Kali ini mama datang sendirian, tidak bersama April si-bungsu kesayangan Mama
            “April gak ikut Ma?” tanyaku begitu Mama masuk kedalam mobil
            “Katanya capek” jawab Mama singkat
            “Iya sih, kalau di fikir-fikir April sama kaya Alm. ya Ma” ujarku sambil terus menyetir mobil
            “Begitulah”
            Kulihat Mama mengeluarkan handphone-nya. Tentu menghubungi si Bungsu April. “Gak diangkat Ma?” tanyaku setelah kulihat beberapa kali Mama mengotak atik smartphone-nya
            “Apa masih tidur ya?”terka Mama
            “Kecapean paling Ma”
            “Iya Na, adikmu itu sekarang sering begadang”
“Masa iya ma?” tanyaku kaget. Karna aku kenal betul siapa April, si over dan si keras serta gila kerja seperti Alm Papa. Yang benar-benar menanamkan hidup teratur ajaran Papa. Beda sekali denganku, mendengar April begadang itu adalah hal baru bagiku. Kulihat Mama hanya mengangguk, pertanda meng-iya-kan pertanyaanku.
Mobil memasuki kawasan Monas, beberapa orang memegang spanduk pertanda kampanye sedang berlangsung. Jalan dialikan Seperti biasanya kepentingan kelompok telah merenggut kepentingan umum. Baru beberapa meter dari kawasan Monas, Handphone Mama berbunyi
“April” ujar Mama lalu menganggkat telfon
            Mas, Udah bangun?
            Kamu lagi dimana?
            Ngapain?
            Oh. Sendiri?
            Temen?
            Yaudah nanti pulangnya hati-hati
pesan Mama lalu menutup telfon
            “Kenapa Ma?” tanyaku melihat ekspresi Mama yang berubah
            “Mas April bilang lagi di SKA sama temen cari kemeja” jawab Mama
            “Iya, terus?” tanyaku heran
            “Mas April sama temen Na” jawab Mama lagi
            “Ya kalau April sama temen kenapa Ma?” tanyaku kembali
            “Mas April sejak kapan punya temen. Mas April itu kemana-mana sama Mama, apa-apa sama Mama. Pergi dinas ke luar daerah aja Mama yang nemenin”
            “Ya. Mungkin kali ini dia benar-benar punya temen”
Kulirik Mama, tanpa ekspresi. Sekali lagi aku lupa, April tak sama sepertiku. April produk berbeda. Ia anak Mama. Bukan anak hutan sepertiku. Sejak dulu April tak pernah pergi tanpa Mama. Ia malam minggu bersama Mama. Ia menghadiri pesta dengan Mama. Ia nge-Mall berdua Mama. Bajunya Mama yang pilih sampai celana dalamnya. Bukan karna Ia terlalu manja untuk usia 29 tahun. Tapi karna Mama masih belum benar-benar rela melepaskan April untuk mengurus semuanya sendiri. Mama menjadi lebih over sejak Papa tiada. April milik Mama
APRIL           
            Aku tau wanita itu suka coklat. Aku pernah melihatnya membeli sebuah coklat kecil dengan matanya yang berbinar pertanda bahwa apa yang tengah Ia nikmati begitu disukainya. Ku ambil keranjang baru yang tersusun rapi dibarisan pintu masuk Hypermart. Kulirik sebentar wanita itu, sekilas Ia mengernyitkan dahi tanpa bertanya. Namun, tentu aku tau maksudnya “untuk apa?”. Kujawab dengan mengangkat kedua bahuku. Ia hanya melengong.
“Cik”
“Ya Mas?”
“Mas kesitu ya. Kamu pilih aja mau beli sabun yang mana”
“Kenapa?”
“Ya nggak kenapa-kenapa”
Kulihat Ia menggeleng, tanda tidak setuju.
“Kenapa?” tanyaku kemudian. Namun, tak ada jawaban “Mas nggak kemana-mana kok” “Nggak kabur” sambungku tepat di telinganya. Kulihat Ia sedikit tersentak dan menjauh dariku selangkah “Kalau gak percaya nih” kusodorkan dompet dan kunci mobilku. Kulihat Ia sedikit ragu. Namun, perlahan ia ambil kunci mobilku dan berlenggang pergi. Wanita itu harus benar-benar bertanggung jawab atas apa yang Ia lakukan padaku detik Ia meraih kunci mobilku. Satu hal: aku jatuh cinta.
Terlalu nyata bahwa tujuannya hanyalah takut kutinggalkan di Hypermart dengan belanjaan sabun yang belum dibayar. Jika Ia wanita yang gila uang, Ia akan mengambil dompetku. Karna tidak dipungkiri, jika Ia adalah wanita gila uang tentu Ia tau bahwa didalam dompetku ada banyak rupiah yang seharusnya bisa Ia gunakan untuk apa saja. Tidak perlu khawatir ku tinggal atau pusing membayar belanjaan.
Wanita itu terlalu polos untuk menjadi pendampingku. Namun, terlalu berharga jika dengan sengaja tidak kuperjuangkan. Dalam gurat wajahnya Ia memperlihatkan kekuatan dan kesedihan yang Ia tanggung dan ditutupi dengan senyuman serta canda tawa. Awalnya kukira wanita ini tidak normal, terlalu kekanak-kanakan. Namun, sifat nyatanya itu yang kini membuatku terpaku diam tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.
Ia sudah pergi, menuju barisan Piring dan Cangkir. Aku mengikuti dari belakang. Kulihat Ia takjub. Menyentuh beberapa alat masak lalu meletakkan kembali. Aku berjalan disampingnya “Kalau suka ambil aja” ucapku lalu pergi. Ia membalikkan badan dan berseru “Haaa”. Kulambaikan tangan lalu pergi.
Berjalan menuju barisan cemilan. Ada banyak coklat terpajang diatas rak-rak. Sekilas terlintas wajah wanita yang barusan kusapa. Kuambil coklat-coklat di rak-rak tanpa berfikir. Aku hanya membayangkan mata wanita itu berbinar saat kuberikan sekantong besar coklat. “Ahhh Ia pasti suka”. Seketika aku ingat Mama. Kuraih handphoneku. Menekan tombol 1 dan panggil.
Mama tertera di layar
“Hallo”
            “Ma, udah sampai?”
            “Pril. Sudah, kamu dimana?”
            “Masih di SKA Ma, di Hypermart”
            “Ngapain?”
            “Lihat-lihat”
            “Oh, sudah makan?”
            “Iya Ma, nanti balik dari sini”
            “Kenapa nunggu balik? Di SKA kan banyak tempat makan”
            “Iya Ma. Aidil sama Fuad apa kabar?”
            “Baik. Dia rindu sama uncle nya”
            “Ya Ma, next weekend kalau nggak ada halangan April ke Jkt”
            “Mau ngobrol sama Mbakmu?”
            “Boleh Ma”
            “Sebentar, Mama panggil”

“Mas, esi udah selesai. Mas udah? Yok balik udah mau maghrib” aku tidak sadar sudah berapa lama wanita ini berdiri tepat disampingku. Yang jelas aku terkejut lalu menutup telfon Mama.
“Oh. Sudah. Ayok” ucapku. Kuperhatikan Ia menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal ketika melihat keranjangku penuh dengan coklat. Dijalan mau kekasir ku kirim pesan singkat ke Mama “Ma, Nanti April telfon. April balik dulu. Hv fun Ma, love you”

HANA
            Kulihat ada yang berbeda dengan ekspresi Mama sesaat kelika April telfon. Bukan gurat bahagia seperti biasanya
            “Ada apa Ma?”
            “Mas April”
            “Kenapa?” tanyaku
            “Mas April sepertinya sedang bersama perempuan”
            “Ha? Yang bener Ma?” tanyaku hampir tak percaya
            “Iya, waktu Mama bilang mau manggil Mbak Nana karna Mas April mau ngobrol. Ada perempuan yang ngajak pulang. Karna sudah Maghrib”
            “Ohh” jawabku. Tak ada yang bisa kuucapkan selain kata itu
            “Mas April sama siapa ya?” tanya Mama sambil memandangku. Aku diam

DESEMBER
            Aku sudah selesai membeli sabun. Aku ngotot minta balik ke kost karna terlalu lelah. Lelaki itu ngotot mau makan dahulu karna lapar. Aku tidak perduli, punggungku sudah bungkuk, sakit sekali. Pinggangku sakit. Lama-kelamaan Ia menuruti kehendakku. Namun memaksa membeli makanan sebelum pulang, dan aku setuju.
Sesampainya didepan kos, aku turun. Tidak lupa mengucapkan terimakasih sudah membelikan sabun. Lalu melangkah menuju pintu kos. Membuka kunci lalu Ia memanggilku
“Cik” panggilnya
“Ya” jawabku ogah-ogahan.
“Nih” ucapnya sambil menyodorkan kantong yang kuyakini berisi coklat yang Ia beli tadi “Untuk kamu”
“Kenapa?” tanyaku bodoh
“Ya karna kamu suka coklat. Udah jangan banyak tanya. Mas balik ya” ucapnya tanpa sempat aku bicara apa-apa lagi
“Walaikumsalam” seru ku
Dia membalikkan badan “Assalamualaikum” ucapnya lalu masuk kemobil. Membunyikan klakson satu kali dan pergi. Aku masuk kedalam kos yang sangat sepi dengan kelelahan yang sangat lalu merebahkan badan dan tidur.


CHAPTER V <--Sebelumnya--Selanjutnya--> CHAPTER VII 

APRIL - DESEMBER (Chapter V)

Chapter V



APRIL
            “Ha? Gila kamu ya. Aku tidak semurah itu hanya dengan sepotong ayam bakar” ucapnya dengan nada tinggi, aku sampai kaget dibuatnya. Kupandang ke arahnya yang menyilangkan kedua tangannya didada. Kusadari apa yang kuucapkan barusan “kehotel aja ya” duh----,
            “Bukan, maksudnya bukan kita cik” kupanggil ia dengan sebutan ‘cik’ sespontan itu. Hingga alam bawah sadarku sekian detik lamanya merasa sangat akrab dengan wanita di sebelahku
            Ia tidak menjawab apa-apa, masih dengan posisi menyilangkan tangan didada dan duduk menjauh dariku. “Maksud mas, kos kamu kan kosong gitu. Kamu nginap di hotel aja nanti mas yang bayarin sampai teman-teman kos kamu dateng. Sendiri gitu mas gak tega” kalimatku mengalir begitu saja, tanpa pikir panjang. Ada sebuah kata kunci yang janggal disana ‘bayarin’. Untuk menghilangkan kesepiannya aku harus membayar total jumlah kamar untuknya menginap? Benarkah? Bukan karna aku tidak memiliki sejumlah itu. Tetapi karna tidak dapat diterima oleh akal sehatku bahwa aku harus mengeluarkan jumlah segitu besar untuk perempuan yang tidak kuanggap sebelumnya
            “Tidak usah masbim. Esi udah biasa di kos sesepi itu, rasanya nyaman” ucapnya. Masbim. Ya, mungkin itu panggilan yang ia yakinkan pas untukku. Kuterima saja, tanpa embel-embel.
            “Yaudah kalau kamu memang yakin”

DESEMBER
 
            Perjalanan pulang dari sukajadi ke panam tidak begitu terasa, lelaki disebelahku ini menyetir dengan penuh ketenangan. Tidak tergesa-gesa. Sesekali kulihat ekspesi kesalnya pada apa yang ia lihat didepannya. Sebuah pemandangan muda-mudi dengan kecepatan pegangan melebihi kecepatan motornya. Kulihat ia bergidik, menyeramkan.
            Sesampainya di depan kos, ia turun. Membukakan pintu persis seperti di film film yang sering kutonton. Ini bagian paling indah yang ingin selalu ku ulang. Lagi, lagi dan lagi. “langsung tidur ya, nanti kalau ada apa-apa kamu telfon mas” ucapnya
            “Sip pabos” jawabku secepat mungkin
            Kini aku merasa bahwa kaisar dihadapanku tengah berbaur bersama: jelata dan merakyat. Aku tak perlu lagi memandang ke atas atau dia memandang kebawah untuk memastikan pembicaraan. Lelaki ini sudah lebih lunak dan baik hati.

APRIL

            Pukul 01:07 aku memasuki pagar rumah. Sebagian lampu sudah padam, pasti mama dan mbak mina sudah tidur. “baguslah” fikirku. Bukan hal yang baik untuk mama masih terjaga hingga jam segini
            Setelah memarkirkan mobil di garage, aku masuk ke ruang tengah. Lampu nya sudah padam. Kuputuskan untuk mampir didapur mengambil segelas air dan membawa kekamar.
            Kulirik sekilas kamar mama. Dari ventilasi udara kulihat lampu kamar mama padam. Mungkin sudah tidur. Lalu aku langsung melangkah menuju kamar tidurku. Baru selangkah memasuki kamar, langkahku terhenti. Sesosok wanita paruh baya dengan wajah cantik, bersih terawat tengah dengan sangat pulas tidur diatas ranjangku. Wanita itu: Mama.
            Tidak pernah mama tidur di tempat tidurku dengan sangat pulas seperti itu. Pasti mama menungguku hingga lelah dan tertidur. Ada rasa bersalah hinggap beberapa detik dalam hatiku. Kubalikkan badan menuju ruang tengah, sebaiknya tidak membangunkan mama dan tidur di sofa saja.
            Sebuah line masuk ke hp ku ketika aku baru saja meletakkan gelas bekas minumku di meja dekat sofa. “terimakasih atas traktirannya mas. Selamat malam”. Dari wanita itu. “ya, terimakasih juga sudah menemani makan malam ini. Selamat tidur” balasku
            Sudah sangat lama aku tidak melakukan rutinitas sesepele itu. Menyapa “selamat malam dan selamat tidur” bagian yang kuanggap tidak bermanfaat, membuang-buang waktu dan bukan gayaku
...

APRIL

            Waktu berlalu tanpa menunggu yang ingin tertinggal. Aku terus melanjutkan rutinitasku tanpa kendala yang berarti. Beberapa kali aku teringat dengan wanita yang malam itu memberi cerita berbeda dalam langkah kehidupanku. Wanita dengan wajah polos dan sepertinya mudah tertipu daya. Wanita dengan ceplas-ceplos cerita panjang lebar tentang hidupnya. Wanita yang hingga kini, tak pernah lagi berinteraksi denganku. Hilang bagaikan ditelan bumi. Wanita itu, benarkah tidak mengingatku?

...

APRIL

            Malam benar-benar menjadi hal yang sangat kusuka. Karna ia sepi, memberikan rasa nyaman, hitam dan gulita. Beberapa keadaan aku benar-benar hanya ingin menjadi sendiri dalam sepi. Menikmati menjadi diriku tanpa siapa-siapa.
            Beberapa jam lalu aku hampir mengalami kecelakaan motor. Hampir menabrakkan motorku ke kendaraan roda delapan yang tengah parkir di perjalanan dari Pekanbaru menuju Duri. Sambil hatiku terus merasa sedih dan ingin menangis. Lelaki yang selalu hampir kusebut namanya, lelaki yang hampir setiap hari kuganggu untuk hanya sekedar tau kegiatannya, lelaki yang dengan banyak janji telah terucap padaku, lelaki yang kuharapkan menjadi pelengkap sketsa kehidupanku dimasa yang akan datang, lelaki yang hampir selalu kudoakan menjadi bagian dari rencana besarku dimasa yang akan datang. Hari ini, dengan sangat mudah ia memaksaku menghapus gambar yang sedang kulukis, melepaskan jemari yang sedang kugenggam dan memintaku dengan sangat untuk mengubur mimpi yang tengah kubangun.
            Menjadi alasan paling besar kenapa fokusku hilang dijalanan tadi: beberapa jam yang lalu.
            Tangisku meledak tanpa bisa lagi ditahan. Untuk yang pertama dan satu-satunya lelaki yang bahkan hanya dengan satu kali “salam” bisa membuatku bahagia menghancurkan segalanya. Ada sesuatu yang benar-benar mengganjal hatiku. Besar dan tak tertahankan. Sebelum melakukan perjalanan panjang tadi aku juga bertemu dengannya dan beberapa orang lain dalam acara reuni Organisasi di Fakultasku. Tak sengaja kulihat galeri di Hpnya, lelaki itu menyimpan banyak foto wanita lain dengan orang yang sama. Kupaksa otakku berfikir. Adakah ikatan kami berakhir sebelum ini? Adakah yang salah? Bukan selama ini ia masih menganggapku ada? Atau hanya aku yang merasa dia menganggapku ada: sumpah ini aku ngomong sampe blepotan pake banget gitu. HEHE. Lalu kutemukan jawaban: aku yang salah

APRIL

            Mama mengajakku ke Surabaya untuk mengunjungi kak Dilla dan mas Juna. Tapi ku tolak. Mama tidak bertanya alasannya: tidak seperti biasanya. Aku berencana ingin mengajak wanita itu makan lagi: ya wanita berbaju pink berkulit hitam (red: cik). Ku buka Line dan menghubunginya

DESEMBER
 
            Aku sudah bersiap akan menuju Pekanbaru sesaat setelah menerima pesan singkat Line dari Masbim: Masbim? Sekarang aku sudah lancar memanggil namanya dengan mudah. Ya lelaki itu mengajakku makan lagi untuk kedua kali. Tidak kutolak. Bukan berarti aku wanita yang murah diajak jalan oleh pria bermobil. Aku hanya mengingat aku butuh tempat untuk menghilangkan suntuk dan patah hatiku.
“Boleh Mas, tapi esi masih di Duri. Ini mau berangkat ke Pekan” jawabku
“Yaudah, hati-hati. Kalau sudah sampai Pekanbaru kabari”
“Ya” jawabku lagi

APRIL

            Aku bersiap ketika ku perkirakan wanita itu sudah sampai Pekanbaru 4jam setelah dia bilang lewat pesannya akan berangkat

DESEMBER

            Aku baru sampai Pekanbaru ketika lelaki itu menelfon.
            “Sudah sampai?”
            “Udah. Baru banget”
            “Mas kesitu”
            “Ngapain?” tanyaku kaget
            “Mau ngajak jalan”
            “Sekarang?” tanyaku tak habis fikir. Kukira dia akan mengajakku makan malam seperti sebelumnya. Ku liat jam dinding di kamarku 15:42 . “Duh, yaudah esi shalat dan siap-siap dulu”
            “Ya” jawabnya singkat

APRIL

            Kulihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul: 16:21 WIB ketika mobilku parkir didepan kos berlantai 2 berwarna cream pudar. Ku klakson sekali menandakan bahwa aku sudah didepan kosnya. 10 menit berlalu, wanita itu tak juga keluar dari kos. Ku putuskan untuk menghubunginya via telfon.
            “Hallo Assalamualaikum” salam dari seberang. Aku tau itu suaranya namun sedikit serak
            “Mas udah didepan”
            “Ha?” serunya sedikit berteriak: terkejut “Maaf mas, esi tertidur. Tunggu sebentar”
            “Ya”jawabku. Tertidur? Hampir tidak dapat kuterima bahwa aku selama 10 menit menunggunya tidur didalam kos nya. Tidak pernah kulakukan sebelumnya. Ada banyak hal berguna yang bisa kukerjakan selama 10 menit jika aku tidak harus menunggu wanita itu tertidur. Ketika fikiranku sedikit jernih dan menerima bahwa mungkin wanita itu merasa lelah karna perjalanan jauh tadi.
            Beberapa menit kemudian wanita itu keluar mengenakan celana jeans. Baju kaus hitam bertuliskan MACAU dan kemeja biru kotak-kotak yang tidak kancingnya dibiarkan saja serta jilbab berwana hitam tanpa riasan wajah. Hanya lipstik merah sedikit. Kupandang ia dengan sedikit bergidik. Memandang penampilanku dengan celana kantun hitam dan kejema biru. Hampir tidak sepadan.
            “Yok” ajaknya membuyarkan pandanganku
            “Ha. Ya” jawabku sedikit gelagapan karna termenung membayangkan berjalan dengannya

DESEMBER

            Aku terbangun karna dering telfon dekat sekali di telingaku
            “Halo Assalamualaikum”
            “Mas, Udah didepan” jawab lelaki diseberang
            didepan? Fikirku
            “Ha?” seruku kemudian. Kutarik kemeja biru yang tergantung dibelakang pintu kemudian menyorong Slinbag dan mengunci pintu kamar. Dan berjalan menuju depan. Aku tau, lelaki ini tidak sama dengan lelaki sebelum-sebelumnya dalam hal menunggu.
APRIL
            Aku berkendara tanpa suara. Wanita disebelahku juga tanpa suara. Aku berfikir tentang banyak hal. Tentang ini dan itu. Juga tentang apa yang ia fikirkan
            “Maaf tadi esi tertidur. Mas udah lama sampe ya?”
            “Gak masalah. Mas tau kamu lelah”
            “Iya, tadi jalanannya macet karna weekend. Udah gitu jalan dari Duri kan Mas tau lubangnya banyak. Jadi ga berani ngebut”
            “Maksudnya?”
            “Ya gitu, tadi bawa motornya pelan-pelan. Pas Mas telfon tadi esi baru sampe banget”
            “Kamu bawa motor sendiri?”
            “Iya, jadi? Naik ojek?” jawabnya lalu tertawa ngakak
            “Ha.. Oo” jawabku kemudian. Tak habis fikirku, wanita disampingku mengendarai motor selama 4 jam dari Duri ke Pekanbaru sendirian juga dengan ekspresi setenang itu tanpa rasa takut. Tidak sepertiku yang tidak pernah berani untuk mengendari motor meskipun beberapa meter. Papa tidak mengajarkan itu
“Mas yang minta maaf”
“Untuk?”
“Seharusnya Mas biarkan kamu istirahat”
“Yaudah, gapapa kok. Tapi ini berarti boleh belanja?” tanyanya kemudian
“Belanja apa?”
“Sabun” jawabnya datar
“Ya boleh”
Kupandang ke arahnya ketika ia spontan tertawa terbahak-bahak sesaat setelah ku jawab ‘ya boleh’, “Kenapa?” Tanyaku penasaran
“Ekspresi Mas lucu. Esi belik sabun pake uang sendiri aja. Masih ada kok”
“Eh gapapa, Mas aja yang bayarin”
“Jangan gitu. Esi ga mau”
“Gapapa. Mas gak suka di tolak” jawabku sekena nya
Wanita itu terdiam. Tak lagi bersuara. Aku berfikir adakah kalimatku yang menyinggungnya?
Sampai di SKA. Aku berputar mencari parkiran. Hampir penuh. Maklum, Weekend. Fikirku. Setelah dapat kuparkirkan mobilku dan keluar. Wanita itu langsung menuju pintu masuk Hypermart meninggalkanku dibelakangnya
Kususul langkahnya. Cepat sekali. Aku berjalan sedikit berlari. Begitu sampai ku raih tangannya. Ia terkejut dan melepaskan.
“Maaf’ ujarku “Kita ke dalam dulu. Mas mau cari kemeja” jelasku berharap ia tidak salah paham atas perlakuanku barusan
“Oh. Iya” jawabnya singkat

DESEMBER

            Begitu turun dari mobil aku langsung berjalan menuju pintu masuk Hypermart. Ini kali pertamaku hanya beli sabun sampai Hypermart. Padahal di kedai mamanya Zaskia juga ada. Gak harus sampai Hypermart. Namun aku tidak lagi berani berkomentar, ku tau satu hal: lelaki itu tak suka di tolak
            Beberapa saat kemudian sebuah jemari meraih tanganku, aku terkejut dan mengibaskan. Tiba-tiba terbayang olehku beberapa tahun yang lalu saat aku dijambret ketika akan pergi sekolah. Si jambret juga meraih tanganku. Bedanya yang kali itu lebih keras dan kasar. Ketika kupandang, kulihat lelaki yang beberapa menit lalu bersamaku didalam mobilnya

CHAPTER IV <--Sebelumnya--Selanjutnya--> CHAPTER VI