Superwomen Pendorong Trolly Makanan

Rabu, 7 Desember 2016
Sebuah panggilan masuk ke nomor ku ketika aku tengah dengan rutinitasku mengantarkan selempang dan beberapa kosmetik pesanan customer onlineku.
            “Hallo, Assalamualaikum” sapaku
            “Walaikumsalam, Desi Permatasari?” tanya lelaki diseberang telfon yang terakhir ku ketahui namanya pak Didir
            “Ya” jawabku singkat
            “Desi, kamu sudah dapat pekerjaan?” tanyanya lagi. Aku menjauhkan handphone ku dari telinga. Memandang kearah layar HP ku dan memastikan bahwa penelepon ini tidak salah orang. Karna seingatku, aku tidak sama sekali memasukkan lamaran pekerjaan. Tapi kemudian aku berfikir bahwa ini adalah rezekiku
            “Belum pak. Kenapa ya?” tanya ku kemudian
            “Kamu besok datang ke awal bros ya jam 2. Ketemu sama buk Wiza di office lantai 3 awal bros” terangnya
            ‘awal bros?’ pikirku, awal bros kan rumah sakit? Aku tidak merasa pernah memasukkan lamaran ke rumah sakit, karna aku memang menghindari bekerja di rumah sakit dan bank untuk alasan pribadi
            “Awal bros rumah sakit pak?”tanyaku polos
            “Loh iya. Rumah sakit awal bros yang sudirman ya”
            “Iya pak. Terimakasih” lalu aku mengucap salam dan bergegas pulang untuk mempersiapkan diri esok hari
Sepanjang perjalanan aku mikir, kapan aku memasukkan lamaran ke awal bros? Ah terserahlah, aku hanya menganggap ini adalah rezekiku
Kamis, 8 Desember 2016
            Aku sampai di parkiran RS Awal Bros pukul 13.47 WIB. Gedung rumah sakit ini begitu besar dan mewah. Banyak kendaraan keluar masuk. Aku berjalan menuju gedung, kulihat 2 orang security tengah berjaga di pintu masuk yang kemudian ku ketahui adalah Unit Gawat Darurat (UGD).
            “Bang, mau tanya Office lantai 3 dimana ya bang?” tanyaku langsung, kupandang dua security berpakaian dongker gelap lebih ke hitam dihadapanku. Kubaca namanya ‘Dodi’ dan ‘Syaiful Bahri’
            “Ngapain ke Office  dek?” tanya security bernama Dodi padaku
            “Saya disuruh ketemu dengan buk Wiza” jawabku
            “Ngapain?” tanyanya lagi, aku yang pada dasarnya emang tidak suka dengan lelaki banyak tanya tiba-tiba langsung bete.
 ‘ah mungkin prosedurnya memang begini’ ujarku dalam hati
“Iya, mau wawancara kerja” jawabku lagi
“Bagian apa?” tanyanya lagi
“Gizi” jawabku singkat. kulirik sekilas lelaki bernama Syaiful yang kemudian ku panggil ‘bg Ipul’ ini terus melayani pasien dan keluarga yang keluar masuk UGD. Sambil sesekali ikut berbicara dengan lelaki bernama Dodi ini.
Setelah mendapatkan arah yang tepat sesuai petunjuk, aku berjalan. Dan sampai di Musholla. Tidak ada jalan lain fikirku. Lewat seorang dengan pakaian berwarna hijau muda, aku berinisiatif untuk bertanya padanya. Kulirik sekilas jam ku sudah menunjukkan pukul 14.08 ‘ah terlambat fikirku’
“Kak, mau numpang tanya”
            “Ya” jawabnya
            “Lantai 3 Office dimana ya kak?” tanyaku
            “Oh, lewat sini” Dia menunjukkan jalan menuju Office lantai 3. Setelah berterimakasih aku berjalan menaiki tangga hingga sampai di Office lantai 3.
Aku masuk dan menyatakan kehadiran di meja resepsionis
“Permisi buk, saya disuruh jumpa dengan Ibu Wiza”
“Dengan siapa?” tanyanya
“Desi Permatasari” jawabku
“Perlu apa?” tanyanya lagi
“Wawancara buk”
“Oh. Untuk gizi ya?” tanyanya kemudian sambil mengambil sebuah absen
“Iya Bu”
“Isi absen dulu ya” ujarnya “Kok terlambat?” tanyanya ketika aku tengah mengisi absen
“Maaf bu, tadi gak tau arah kesini”
“Tunggu disitu nanti dipanggil”
            Aku duduk dikursi tunggu. Ada tiga orang perempuan yang tengah menunggu untuk dipanggil wawancara juga. yang satu badan nya tinggi sekitar 170an, kurus. Rambutnya di gerai sebahu dengan jepit polos berwarna hitam. Riasan wajahnya sedikit mencolok bagiku yang saat itu hanya memakai bedak baby. Mengenakan setelan rok pendek hitam dan kemeja lengan panjang. Tidak lupa heels dengan tinggi sekitar 5 cm yang membuat tubuhnya semakin tinggi menjulang. Tengah bercerita dengan wanita disebelahnya dengan tinggi dan berat badan sedikit lebih mungil dariku. Riasan wajahnya juga biasa saja sepertiku. Mengenakan celana panjang dan kemeja biru polos dan jilbab senada. Di sudut kursi, duduk pula seorang wanita yang agak gemuk dariku tapi tidak lebih tinggi dari sebelahnya. Mengenakan rok hitam dan baju kemeja dengan jilbab berwarna hitam. Duduk sambil memainkan handphone nya, kupercaya wanita ini kurang percaya diri dan kurang komunikasi. Terlihat dengan caranya bersikap ketika bertanya.
            Satu persatu dari mereka masuk dan keluar dari ruangan berpintu hijau. Kupandang jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 14:21 WIB ketika wanita tinggi ber rok pendek itu masuk, beberapa menit kemudian wanita itu keluar dan dilanjutkan dengan dua lainnya. Setelah wanita terakhir keluar, aku menunggu hingga pukul 15:03 dan kemudian merasa aneh karna tidak dipanggil-panggil. Padahal wanita terakhir langsung dipanggil setelah wanita sebelumnya keluar. Aku merasa gagal bahkan sebelum wawancara, ‘apa karna aku terlambat ya?’ bathinku sedetik kemudian
            Aku hendak berdiri dari kursiku untuk bertanya ketika kemudian wanita berjas hitam menghampiriku
“Namanya siapa?” tanyanya
            “Desi Permatasari kak” jawabku
            “Mau wawancara? Tunggu sebentar ya, yang mewawancara satu lagi shalat” jelasnya
            “Ohiya kak” jawabku singkat, lalu kembali duduk
Waktu menunjukkan pukul 15:43 ketika namaku dipanggil dan disuruh masuk kedalam ruangan berpintu hijau. Kulihat banyak orang ada didalam ruangan tersebut. Sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada banyak kursi yang kulihat selama ini seperti kantor-kantor di tivi-tivi. Aku masuk kedalam ruangan berukuran 4x3m dengan kaca bening yang bisa dilihat dari luar. Namun ternyata kedap suara. Begitu masuk aku disuruh duduk
“Silahkan duduk” ujar seorang wanita
Aku pun duduk. Didepanku ada dua wanita. Yang satu kurus mengenakan pakaian dinas berwarna hijau muda dan berjilbab abu-abu, kacamata bulat yang kemudian aku tersenyum, tapi hatiku tertawa. Wajahnya sungguh aneh dengan kacamata yang tengah dia kenakan. Antara tidak cocok atau apa ya. Style yang terlalu dipaksakan menurutku. Yang satunya lagi kakak yang tadi menyuruhku menunggu, mengenakan jas warna hitam dan tidak mengenakan riasan wajah. Badan nya sedikit gemuk dan kelihatannya baik
“Perkenalkan diri kamu” ucap wanita berjas hitam
Setelah memperkenalkan diri wanita berjas hitam yang kemudian kuketahui bernama Adq Irma Suryani. Bagian SDM memperkenalkan wanita aneh disebelahnya
“Desi, ini Ibet yang nanti akan menjadi atasan kamu jika kamu diterima” ucap kak Irma
“Ibek?” tanyaku memastikan
‘ternyata bukan style nya saja yang aneh, namanya juga aneh’ bathinku
“Ibet” ralatnya
“Oh Ibet” Gumamku
“Elizabeth” sambungnya lagi. Mungkin merasakan ketidakpahamanku terkait namanya
“Elizabeth?” tanyaku lagi “Bagus ya namanya, kayak nama orang kerajaan di Belanda “ ujarku sok tau, tapi bagiku namanya emang sekeren itu. Apalagi dia mengenakan hijab. Nama yang tidak biasa untuk seorang beragama islam, atau hanya pikiranku saja?
Wawancara berlangsung sedikit lebih lama menurutku. Aku mengingat kembali beberapa wanita sebelumku yang mungkin hanya menghabiskan waktu 5-10 menit untuk wawancaranya. Kulirik sekilas jam tanganku, pukul 16:22. Sudah hampir setengah 5. Ini bukan perasaanku saja bahwa wawancara ini terasa lama. Tapi emang lama, aku sudah setengah jam diruangan ini. Dan heran nya aku merasa nyaman. Tidak takut atau deg-degan seperti wawancara yang kulihat di youtube.
“Udah hampir setengah 5 ya” ujar kak Irma kemudian
            “Eh iya. Udah ya kak” sambung kak Ibeth
            “Udah bet? Ada yang mau ditanya lagi?” tanyanya
            “Ibeth udah kak” jawabnya
            “Yaudah ya Desi. Wawancara nya udah selesai. Nanti tunggu panggilan selanjutnya” kemudian aku berdiri dan menyalami mereka berdua
Aku turun kebawah dan menuju mushola yang tadi kulewati. ‘Aku sudah terlambat untuk melaksanakan shalat Zuhur’ bathinku
Selesai shalat aku belum mau langsung pulang. Rasanya perutku sakit sekali. ingin buang air besar. ‘ah gak tepat banget sih?’ ujarku kesal. Kebetulan tempat wudhu di musholla ini ada WC dan juga kamar mandinya. Akupun pulang, diperjalanan aku teringat ucapan Bapakku jika kita pergi test masuk sekolah atau bekerja dan sempat buang hajat ditempat itu, tanda nya kita diterima dan akan bergabung ditempat itu. Duh, memikirkannya saja sudah bahagia. Hahah
Jarak antara kost dan rumah sakit sekitar 40 menit menggunakan sepeda motor. Aku masih diperjalanan ketika handphoneku berdering. Begitu sampai kost, kulihat hp-ku. Ada 8 panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Setelah meletakkan tas, aku menghubungi nomor tersebut dan menjelaskan bahwa tadi aku tengah di perjalanan pulang. Dan ternyata aku lulus dan disuruh datang pukul 09.00 WIB esok hari untuk menjalani Medical Check Up. Yang biayanya ditanggung sendiri sebesar 260rb.
Jum’at, 9 Desember 2016
Keesokan harinya aku menjalani serangkaian Medical Check Up dibagian MCU lantai 2 gedung Selatan yang terdiri dari 10 lantai. Setelah menjalani serangkaian Medical Check Up yaitu pemeriksaan Mulut, Darah, Air Kencing, Rontgen dan tes fisik aku pulang untuk menunggu hasil. Hingga sore hari Hp-ku tidak berdering. Aku menerka-nerka apakah aku memiliki penyakit yang tidak kuketahui? Kuambil Hp ku dari dalam tas, ku buka lipatnya  (samsung lipat dual SIM). Ternyata Hp ku silent dan ada beberapa panggilan tidak terjawab tertera di layar HPku. ‘Oh God. You’re so smart Des’ kutukku pada diri sendiri. Ku tarik nafas dengan asal-asalan dan menghubungi kembali nomor yang tertera, tanpa menjelaskan kenapa aku tidak mengangkat telfon suara diseberang menyuruhku untuk datang besok pagi pukul 09:00 WIB ke Rumah Sakit Awal Bros untuk langsung bekerja “Its so amazing. Thanks God. Alhamdulillah”

Liontin Kupu-Kupu


Ini bagian III, sebelum lanjut. Yuk, ke BAGIAN II dulu


Bagian III


Cerdas cermat berlangsung alot. Team Nina dan Team Tasya hampir sama kuat. Tapi di akhir pertanyaan Gina dari Team menjawab pertanyaan terakhir yang kemudian menjadikan Nina dan Team menjadi juara 1. Aku menyalami Nina, Gina dan Pandu untuk memberikan selamat. Nina memelukku
            “Terimakasih Buk, berkat Ibu Nina dan teman-teman juara1”
            “Enggak sayang. Kalian emang pinter dan hebat”
            “Nina tersenyum lebar sekali”
            “Selamat Princess Papa” ujar seorang laki-laki dari arah yang berlawanan denganku
            “Papa” ujar Nina sembari sedikit berlari kearah Papa dan Bundanya
            “Selamat ya sayang. Papa bangga sama Kamu”
            “Terimakasih Pa”
            “Bunda juga bangga sama Nina. Pinter”
            “Yun” sapa Pak Tama
            “Iya Pak” jawabku sambil tersenyum. Senyum kecut tentunya
            “Terimakasih ya Yuni, ini juga berkat andilmu” ucapnya
            “Iya bu Yuni. Terimakasih sudah membantu putri semata wayangnya Mas Tama dengan sangat baik hingga bisa menyabet juara 1” sambung Bunda Nina
            ‘Maksudnya apaan nih?’ tanyaku dalam hati ‘Nina ini bukan anaknya? Pak Tama bukan suaminya? Gimana sih maksudnya?’ aku heboh sendiri bersaut-sautan dengan hatiku tanpa memikirkan bahwa Pak Tama memanggilku beberapa kali. Aku baru tersadar begitu (Bunda-nya Nina) menyentuh pergelanganku karna aku tidak bereaksi ketika Pak Tama memanggil
            “Bu”
            “Eh iya Bun. Kenapa?” tanyaku terkejut
            “Kamu melamun Yun?” tanya Pak Tama “Tidak biasanya” ujarnya lalu tertawa, disambut tawa Olin “Iya ya Mas”sambung Olin
            “Ma maaf pak. Ada apa?”
            “Nanti malam kamu kerumah ya. kami berencana mengadakan malam malam sedikit nanti”
            “Iya bu Yuni, dateng ya Bu” sambung Olin
            “Iya Pak Bun” jawabku singkat

...
            Motorku masih berjarak 500 meter dari rumah Nina. Kulihat sudah banyak mobil terparkir. ‘Wah, untuk merayakan keberhasilan Nina juara cerdas cermat yang hanya tingkat sekolah acaranya sampai segini mewah ya. Orang kaya suka tidak bisa ditebak. Bisa mengeluarkan uang untuk hal yang menurut orang sederhana sepertiku bukan hal besar yang butuh pesta’ ujarku dalam hati
Aku memarkirkan motorku di parkiran yang disediakan panitia. Sekitar 200 meter dari rumah Nina. Karna gerbang depan nya sudah di dekor dengan hiasan yang hampir seperti acara nikahan. Lalu masuk ke gerbang depan. Dua orang penjaga tamu mengenakan dress warna cream selutut dengan riasan yang menambah kesan bahwa acara ini bukan seperti acara anak seusia Nina
“Undangannya kak” ujar seorang wanita berponi
            “Undangan?” tanyaku “Saya gak ada undangan mbak, memang pakai undangan ya?” tanyaku lagi. Aku semakin bingung bahwa acara syukuran menang lomba Nina bahkan sampai pakai undangan
“Jika tidak bawa undangan, maaf mbak gak boleh masuk ya” ucap wanita satu lagi dengan sopan
            “Ohiya gapapap” jawabku lalu berbalik untuk kembali pulang
            “Yun” seru Pak Tama
            “Mba, dia tamu saya” ucap pak Tama pada dua wanita penjaga tamu
            “Oh Maaf pak”
            “Yaudah Gapapa”
            “Yun, maaf ya. Saya lupa kasih undangan ke kamu” lalu Pak Tama meraih tangank dan membawaku masuk
Begitu sampai dipintu masuk aku melepaskan tanganku
“Eh maaf Yun” ucapnya, aku tidak menjawab
            “Acara untuk syukuran Nina gede ya Pak” ucapku tanpa bisa menyembunyikan keherananku
            “Syukuran Nina?” tanya Pak Tama heran
            “Iya” ucapku “Syukuran kemenangan Nina atas lomba cerdas cermat” sambungku
Pak Tama tertawa lepas, membuat beberapa tamu memandang kearah kami berdua. “Maksud kamu saya membuat acara sebesar ini untuk kemenangan Nina lomba cerdas cermat?” tanyanya. Aku mengangguk perlahan
            “Saya tidak sekaya dan tidak seroyal itu Yuni. Untuk apa acara syukuran Nina sampai pesta segala. Ini acaranya Olin yang kebetulan tadi Nina menang lomba cerdas cermat” jelasnya
            “Acara Olin?”
            “Ya”
            “Olin siapa?”
            “Bunda-nya Nina”
            “Bunda-nya Nina?” tanyaku semakin bingung
            “Ya” jawabnya singkat
            “Acara apa?” tanyaku lagi
            Pak Tama mengarahkan telunjuknya pada backdrop dedaunan di arah kanan kami. Lalu aku mengikuti arah yang ditunjuk dan membaca “Enggagement Olin dan Sandri” ‘tunangan?’ tanyaku dalam hati
            “Tunangan Pak?”
            “Ya”
            “Siapa?” tanyaku penuh kebingungan
            “Ya Olin”
            “Bukannya dia istri Bapak?” tanyaku polos
            Haha bukan Yuni, Olin itu adek kandung saya. Nina memang memanggilnya Bunda karna Nina tidak lagi mengenal sosok ibunya sejak usia 3 tahun. Olin yang membantu saya membesarkan Nina sejak Mamanya pergi
            “Oh” jawabku singkat. Rasanya lega dan sangat gembira. Sebuah batu yang sangat amat besar dan berat menimpa dadaku seperti hilang. Entah kenapa dan entah dasar apa. Apa aku benar-benar menyukai lelaki ini sejak pertama kali bertemu? Apakah aku benar-benar menumbuhkan harapan lain selain antara guru dan walimurid dengan Pak Tama? Ada apa? Jarak usiaku dengannya hampir 13 tahun, status sosial ku dengannya juga berbeda jauh. Juga banyak ketimpangan lain yang mungkin tidak bisa di satukan
            “Yun” tanya Pak Tama melambaikan telapak tangannya diwajahku
            “Ya Pak”
            “Melamun lagi?” tanyanya. Aku hanya balas dengan senyum
...
            Aku duduk disebuah kursi panjang dengan sepiring buah. Acara pertunangannya berlangsung meriah dan bahagia. Olin sangat senang, kulihat ia tak berhenti tersenyum sambil menyalami tamu yang hadir. Potongan melon dan Semangka ditanganku ini terasa sangat manis. Aku juga tersenyum lega dan bahagia. Lega dan bahagia pada hal yang tidak jelas apa.
...
            Malam itu malam terakhir aku mengajar Nina Private. Bukan karna Nina mendapatkan guru baru. Tapi karna ada program belajar tambahan di sekolah untuk siswa kelas 6 memasuki persiapan masa Ujian Nasional. Sehingga Pak Tama memutuskan untuk tidak menghentikan Private Nina karna tidak mau Nina terlalu keras belajar hingga kekurangan waktu istirahat dan bermain di usia nya
            “Nina sebenarnya masih mau Private sama Ibu, tapi Papa bilang udahan. Nanti kalau Nina SMP cari guru Private lagi mau ya Ibu mengajar Nina” ucapnya setelah belajar
            “Iya boleh sayang” aku menjawab lirik sekali, aku merasa sedih berpisah dengan gadis cantik nan baik hati ini
            “Nina udah sayang sama Ibu”
            “Iya ibu juga sayang sama Nina” jawabku nyaris menangis
            “Bu tunggu ya” ujarnya lalu beranjak dari duduk dan berjalan menuju kamarnya “Ini untuk Ibu” ucapnya sambil menyerahkan sebuah kado dibungkus dengan box ungu berpita emas
            “Apa ini sayang?” tanyaku
            “Untuk Ibu dari Nina. Papa bilang kalau kita berjuma dan dekat dengan seseorang sebelum berpisah harus kasih sesuatu untuk mengikat hubungan agar tidak putus” jawabnya menjelaskan
            “Wah ibu gak kasih apa-apa buat Nina”
            “Ibu udah kasih Nina illmu yang banyak banget, ga bisa di ukur pakai uang” jawabnya membuatku terharu
            “Makasih ya sayang”
            “Sama-sama Ibu” jawabnya langsung memelukku, kuusap kepalanya
            “Wah kenapa nih?” sambung seorang lelaki dari dalam kamar
            “Kan hari ini Buk Yuni terakhir ngajar Nina Pa” jawab Nina aku hanya tersenyum
            “Ohiya ya Buk, sebentar ya” jawab Pak Tama lalu masuk lagi kedalam kamar dan membawa sebuah amplop “Ini uang Private Nina bulan ini Buk”
            Aku menerima amplop tersebut “Terimakasih Pak”
            “Iya sama-sama”
            “Buk, Nina masuk kamar ya. Pa Nina masuk ya Pa” jawab Nina sambil menenteng buku pelajarannya
            “Iya sayang” jawab  kami bersamaan. Lalu pak Tama memandangku dan tersenyum
            “Yuni”
            “Ya pak” jawabku merasa sangat canggung
            “Mau temani saya makan sate di simpang situ?” tanyanya kemudian
Aku berfikir lagi, terakhir kali beliau mengajakku aku merasa amat sakit hati dan tidak pantas dengan ajakan beliau. Karna mengira Olin adalah ibu kandung Nina. Kali ini aku merasa amat canggung dan entah sejak kapan jantungku berdetak amat kencang. Tidak memberikanku jeda untuk mengaturnya.
“Yun?” pak tama membuyarkan lamunanku
            “Iya pak”
            “Gimana?”
            “Boleh pak”
            “Kita pakai mobil saja ya nanti motormu tinggal disini dulu, saya gak enak goncengan kalau pake motor kamu”
            “Ya pak boleh”
            “Tunggu ya saya ambil kunci dulu” lalu Pak Tama mengetuk kamar Olin dan pamit keluar, Olin memandang kearahku sebentar dan tersenyum lalu mengedipkan mata kearah Pak Tama, pak Tama hanya membalas dengan senyuman
            “Ayok Yun” ajaknya lalu mengunci pintu depan
Aku duduk disamping pak Tama dan tidak berbicara sepatah katapun. Perjalanan yang hanya lima menit terasa hampir 5 jam. AC mobil tidak terasa sejuk sama sekali, bahkan aku merasa sedang di sauna. Panas dan sesak. Kenapa denganku? Kami hanya makan sate yang jaraknya tidak lebih dari 6km.
“Kamu ga mau turun Yun?” tanya pak Tama mungkin untuk beberapa kali
            “Eh maaf pak” lalu aku turun dengan tergesa-gesar menyebabkan rok depanku terpijak dan membuatku terjatuh.


Eh, masih ada kelanjutannya nih di BAGIAN IV

Liontin Kupu-Kupu


Ini bagian II, sebelum lanjut. Yuk, ke BAGIAN I dulu


Bagian II


“Tama” ucapnya mengulurkan tangan lalu kuterima
“Yu. Yuni pak” jawabku gugup, lelaki yang kujabat tangannya adalah lelaki yang menolongku mengeluarkan motor dari parkiran CFD beberapa tahun silam dan anak yang kuajar barusan bisa jadi adalah anak yang waktu itu ia pegang tangannya
“Ohiya bu Yuni untuk pembayarannya ibu minta di muka apa dibelakang?” tanyanya
“Saya bayar akhir bulan saja pak” jawabku
“Untuk hari belajarnya apa bisa Senin-Jum’at? Karna Nina weekend harus libur dari belajar” jelasnya “Lagipula kamu juga masih lajang. Tentu perlu keluar dihari weekend bukan?” ucapnya lalu tersenyum
Kujawab dengan senyuman “Bisa pak. Senin – Jum’at”
‘DEAL” ujarnya
            Hari itu pikiranku campur aduk. Aku pernah beberapa kali berharap bertemu kembali dengan lelaki itu yang ternyata adalah Ayah dari murid Privatku. Doaku diijabah ketika mengantar lamaran disekolah. Lalu siapa sangka, doaku diijabah plus bertemu dengan istri dan anaknya. Bagaimana rasanya?
            Begitu motorku keluar dari halaman rumahnya, aku berbalik dan memandang kembali rumah yang baru saja membuatku setengah Shock. Aku akan kerumah ini 5 hari dalam seminggu juga pasti beberapa kali akan bertemu dengan Pak Tama. Detik kemudian aku menggeleng-gelengkan kepalaku “Duh apasih yang aku fikirkan”. Aku lalu menarik gas motorku dan kembali pulang
...
            Aku tengah mengajar Nina ketika Pak Tama duduk di kursi yang berhadapan denganku. Aku memandang sekilas, kulihat Pak Tama tersenyum. Setelah kubalas kemudian melanjutkan mengajar Nina. Beliau memang sering memperhatikan aku ketika mengajar putrinya. Beliau pernah bercerita bahwa beliau tidak punya banyak waktu untuk memberikan Nina perhatian. Selain mengajak Nina bermain di hari Minggu tidak ada waktu lain. Karna beliau juga sibuk dengan pekerjaannya. Aku memaklumi.
            Setelah Nina selesai belajar ia menyalami tanganku.
            “Bu, Nina masuk duluan ya”
            “Iya Sayang” Jawabku. Lalu Nina pun masuk kedalam kamar
            “Kamu mau langsung pulang Yun?” tanya pak Tama “Ini Gajimu bulan ini” ujarnya sembari menyodorkan sebuah amplop
            “Terimakasih Pak” balasku
Beberapa waktu kemudian Ibunya Nina keluar membawa secangkir Lemon Tea untuk suaminya. “Ini teh nya Mas. Aku kekamar ya gak bisa temani ngobrol” lanjutnya
“Iya ga masalah. Banyak tugas ya?”
“Seperti biasa” jawab wanita itu “Diminum tehnya Bu Yuni” ujarnya sembari tersenyum dan kembali masuk kekamar

“Usia Kamu berapa Yun?” tanya Pak Tama kemudian
“23 Pak” jawabku
“Wah masih muda sekali ya” jawabnya “Saya tahun ini 36” ujarnya kemudian sambil tertawa. Aku hanya tersenyum
“Orangtua kamu dimana?”
“Dua-duanya sudah meninggal Pak”
“Innalillahi. Wah saya minta maaf Yun. Tidak seharusnya saya bertanya”
“Gapapa Pak”
“Wah suasananya jadi gak enak ya” ucapnya
“Jadi kamu disini nge-kost?” tanya nya kemudian
“Iya Pak”
“Adik beradik berapa?”
“Saya sendiri pak, anak tunggal” jawabku
Malam itu pak Tama tampak seperti seorang teman yang ingin mengenalku. Beliau bercerita tentang masa-masa kuliahnya yang juga berliku. Berjualan banyak barang untuk bisa bertahan dan menjadi seorang sarjana. Juga cerita tentang ibunya Nina yang super baik dan mau menerima dari awal karirnya dimulai
...
            Hari berganti dan Nina sudah duduk dibangku kelas 5 sekarang. Aku masih menjadi guru Private nya. Nina merasa cocok diajar denganku dan aku juga merasa cocok dengan Nina, selain Nina gak banyak tingkah Nina juga gampang menerima apa yang aku ajarkan. Waktu belajar Nina juga sudah berganti. Dari Senin-Jum’at menjadi Senin, Rabu, dan Jum’at.
            Nina akan ada cerdas cermat disekolah hari Minggu dalam rangka ulangtahun sekolah. Pak Tama menghubungiku pukul 16:00 WIB
            “Hallo Yuni”
            “Hallo Pak. Ada apa?”
            “Kamu malam ini sibuk?”
            “Tidak pak ada apa?”
            “Nina bilang besok ada lomba cerdas cermat disekolah”
            “Ohiya pak. Nina juga peserta. Ada apa?”
            “Nina ingin review pengetahuannya tapi saya tidak bisa menemani belajar. Karna ada kerjaan sampai malam. Kamu bisa kerumah belajar tambahan? Nanti saya hitung lembur”
            “Oh  bisa pak. InshaaAllah nantik saya kerumah”
            “Terimakasih Yun. Assalamualaikum”
            “Walaikumsalam” jawabku
...
            Nina begitu antusias dengan cerdas cermat besok. Pengetahuan umum dan khusus sudah dipelajarinya dengan baik. Semua kisi-kisi yang menyangkut tema cerdas cermat juga dihafal nya dengan baik. Sebenarnya aku bahkan tidak membantu banyak untuk persiapannya. Nina sudah prepare sendiri
            “Wah kalau seperti ini Nina bisa juara besok” ujarku
            “Serius Bu?” tanyanya, kulihat matanya berbinar cantik sekali anak ini fikirku dalam hati
            “Iya serius dong. Besok Nina tim siapa?” tanyaku
            “Pandu sama Gina Bu” jawabnya
            “Assalamualaikum” ucap seseorang dari luar
            “Papa” jawab Nina
            “Walaikumsalam” jawabku juga Nina bersamaan, Nina mengulurkan tangan menyalami Ayahnya
            “Wah, Anak Papa udah ready untuk besok?” tanya nya menyambut tangan Nina sambil mengusap kepala Nina
            “Udah dong Pa” jawab Nina “Nina masuk kamar ya Pa”
            “Ya sayang”
            “Terimakasih Yun, sudah membantu Nina” ucap Pak Tama lalu duduk di hadapanku
            “Saya tidak membantu banyak Pak, Nina sangat antusias dan semangat saya hanya mengimbangi saja”
            “Ya tetap saja. Kamu sudah mengorbankan weekend-mu demi mengajari Nina”
            “Saya malah senang karna sejujurnya saya tidak pernah kemana-mana sabtu dan minggu jika tidak ada undangan walimahan dari teman Pak”
            “Oh begitu”
            Kulihat Pak Tama mengangguk-angguk lalu memandangku. Untuk sekian menit mata kami saling pandang. Kuperhatikan wajah lelaki yang pernah menjadi sangat ingin kutemui lagi 4 tahun silam. Hangat dan sangat bersahaja. Lelaki yang pernah sering kudoakan tanpa mengetahui identitasnya. Setelah kembali bertemu, ternyata jarak antara aku dengan lelaki ini justru dibentengi tembok tinggi yang tidak mampu untuk diruntuhkan. Aku hanya seorang guru Private untuk anak semata wayangnya. Putri cantik yang pasti sangat beliau sayang, begitu juga dengan istrinya. Istri? ‘Astaghfirullah apa yang tengah kubayangkan barusan?’ ucapku dalam hati. Kuturunkan pandanganku pada hal yang tidak seharusnya kuperhatikan.
            Kunaikkan (sekali lagi) pandanganku mengarah pada sesosok lelaki dihadapanku. Ia masih memandang kearahku. Lalu aku berinisiatif berdiri untuk kembali kekos. Kulirik jam tanganku, sudah hampir pukul 21:00 WIB
            “Sudah mau pulang Yun?”
            “Ya Pak, sudah hampir jam 9 malam”
            “Mau makan sate di simpang situ?” ujarnya menawariku
            “Ha? Kenapa maksudnya?” tanyaku mengulang. Lebih tepatnya memastikan bahwa aku tidak salah dengar
            “Mau makan sate disimpang depan situ?” ulangnya lagi
            “Ke kenapa pak?” tanyaku gugup
            “Ya gak kenapa-kenapa. Kalau kamu risih mau langsung pulang ya silahkan” ucapnya sembari tersenyum
            Aku berfikir beberapa kali. Masih memastikan bahwa aku tidak salah dengar. Kucubit lengan kiriku ‘aw, sakit’ pikirku ‘artinya aku tidak bermimpi’ fikirku lagi
            “Saya sudah lama tidak makan sate disimpang situ” ucap Pak Tama lagi “Mau makan disitu kadang suka aneh sendirian. Makanya saya ajak kamu. Maaf kalau saya kurang sopan”
            “Bukan begitu Pak. Tapi Ibu” ucapku, berharap bahwa Pak Tama hanya becanda dengan ajakannya
            “Ibu? Ibu siapa?”
            “Maaf. Maksud saya Bunda-nya Nina”
            “Oh Bunda Nina lagi ada yang di urus untuk besok”
            ‘sial’ fikirku dalam hati, jadi karna istrinya sedang tidak dirumah dia seenaknya mau mengajakku makan malam berdua. Kufikir lelaki ini, lelaki baik-baik tapi ternyata dia tidak ada bedanya dengan lelaki lain yang mata keranjang.
            “Maaf Pak tapi tidak etis bagi saya pergi dengan Bapak sementara Bunda-nya Nina sedang tidak dirumah”
            “Loh kenapa?”
            “Saya permisi” ucapku lalu pergi tanpa menunggu lelaki itu menjawab. Emosiku mendadak naik sampai keubun-ubun. Mengingat caranya mengajakku. 




Ada kelanjutannya nih, yuk ke BAGIAN III