Sepotong Daun Kering #5


5
Bahagia itu kita yang ciptakan, bukan dia atau mereka
Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes, I see my future in an instant
And there it goes,
I think I found my best friend
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason
Only the sense of completion
And in your eyes, I see
The missing pieces I'm searching for
I think I've found my way home
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
----“I Know I Love You before I Meet You”, Savage Garden

Alun-alun kota Jogjakarta tidak seperti biasanya. Mungkin karna hari ini adalah kali pertama Karin menemani Ayat ngamen. Rasanya tidak hanya bahagia namun tak terkira. Pacaran seperti ini belum pernah dibayangkan Ayat sebelumnya. Ketika kekasihnya mengirimkan SMS untuk bersedia menemani mengamen di Alun-alun demi mengisi malam minggu kali ini.
Tiga jam yang lalu
            Hai, malam ini kita jalannya ke alun-alun ya sebait SMS mendarat di hp Ayat
            Boleh, kamu mau naik becak hias ya?
            Enggak kok
            Terus mau liat apa?
            Kamu bawa gitar ya, ngamen di alun-alun. Aku temani
            Kamu serius mau nemani aku ngamen?
            Iya
            Oke sayang. Aku jemput kamu ba’da Isya ya
            Sipp
            “Kita ngamen disitu aja ya” tunjuk Ayat pada salah satu tempat yang letaknya lumayan strategis setelah melihat kesegala penjuru alun-alun kota Yogyakarta yang ramai oleh segala kalangan khususnya muda-mudi
            “Kamu biasanya ngamen dimana?” tanya Karin kemudian
            “Ya gak ada tempat khusus sih, dimana yang posisinya menguntungkan. Ramai dan enak untuk ngamen”
            “Oh” jawab Karin sambil mengangguk-angguk
            “Posisi ngamen itu sebenarnya penting banget buat yang jadikan ngamen sebagai sumber menyambung kehidupan apalagi yang menggantungkan hidup dari mengamen Rei. Kalau yang kayak aku sih, dimana aja oke. Karna ketika aku megang gitar dan nyanyi rasanya aku gak peduli dengan sekelilingku. Aku merasa telah menyatu dengan laguku dan aku merasa hidupku indah hanya dengan gitar”
            “Oh” Karin mengangguk-angguk takjub. Baginya sebelum mengenal Ayat, ia tidak pernah tau gimana perasaan seorang penyanyi ketika berada diatas pentas atau panggung besar. Dihadapan ribuan bahkan puluhan ribu penonton. Bagaimana mereka menghadapi kegugupan dan harus tetap tampil maksimal dengan suara yang tetap bulat tanpa cacat
            “Kita ngamen disini Rei” ucap Ayat begitu sampai ditengah alun-alun dekat kursi yang sebagian sudah diduduki sepasang muda mudi
            Ayat mulai memetik gitarnya, Karin memandang kearah sekitar. Sepasang kekasih tampak nmemperhatikan penampilan Ayat ditengah alun-alun yang terlihat padat
And I don’t understand
How you slipped through my hands
And I’ll do all I can
To get you out of my head
So, when I call you in the middle of the night
And I’m choking on the words ‘cause I miss you
Baby, don’t tell me I’m out of time
I got so much of my loving to give you
In the middle of the night
In the middle of the night
I need you
In the middle of night
                        ---“middle of the night” The Vamps
Karin memandang ke arah Ayat sesekali, mencuri pandang. Entah sejak kapan hatinya tidak lagi merasa sepi. Ayat selalu tau bagaimana cara untuk membuatnya gembira. Karin tidak lagi ingin bermimpi, harapnya adalah setiap hari nyata. Karna kenyataannya jauh lebih indah dibandingkan mimpi. Dalam keterbatasan biaya hidup Ayat menjanjikan kebahagiaan tidak harus karna uang, bagi Karin yang sudah susah sejak kecil. Ayat adalah dahaga lain ditengah kehausan.
Sejatinya cinta itu menggenapkan, ia hadir untuk kekuatan dari ketidakberdayaan. Cinta adalah senyum ditengah kesedihan. Tumbuh dan berkembang sebagai tetesan embun ditengah kekeringan. Untuk cinta, berbahagialah ketika ia datang.
...
            “Denger-denger anak kos belakang kemarin malam kemalingan girls” Cerocos Kinan sambil memegang cup ice cream
            “Seriusan Nan? Gimana kejadiannya?” cerocos Kiki tak mau kalah duduk disofa sebelah Kinan
            “Kosannya kosong, pada balik kampung katanya”
            “Kata Siapa?” sambung Ifaah
            “Bude Ani yang tinggal di Gg depan situ. Deket warung Ceh Olin”
            “Apaan yang ilang?” sambung Kiki
            “Trus, anak-anak udah pada tau?” serbu Tantri
            Kinan geleng-geleng demi jawaban yang diinginkan anak-anak kos nya. Ia juga menyesal kenapa tidak berlama-lama duduk dideket warungnya Ceh Olin siang tadi. Setidaknya bisa lebih banyak dapat informasi tentang kos belakang yang kemalingan
            “Katanya ada yang ninggalin motor sama laptop. Itu yang punya laptop jumat ini mau sidang. Do’i balik kampung mau minta restu nyokapnya mau ujian sidang gitu. Kesian itu deh menurut gue”
            “Jahat banget tu yang punya kerjaan, apa gak bisa gitu nyari uang pakek cara halal. Rezeki udah diatur sama Allah juga padahal” geram Dhita yang baru balik kos langsung nimbrung
            “Doakan aja malingnya cepat insyaf sebelum ketangkap, sama yang kemalingan diberi ketabahan sama Allah” sambung Karin yang tengah berjibaku dengan alat-alat masaknya
            “Meskipun udah insyaf tetap harus dapet ganjaran juga sih mbak” cerocos Dhita dengan wajah ‘tidak termaafkan untuk sang maling’. “Nihya kalau perlu digebukin massa” sambungnya tanpa henti
            Karin, Kinan, Tantri, Kiki, Ifa, Egi dan Yoli terdiam. Mereka bermain pada fikirannya masing-masing. Meskipun begitu, hanya satu hal yang akan mereka maklumi. Dhita begitu benci dengan maling. Baik maling kelas kakap setingkat koruptor maupun maling kelas teri seperti maling ayam dan maling jemuran. Dhita punya trauma berat sekaligus kebencian yang mendalam terhadap maling.
Ayahnya meninggal karna digebukin massa awal tahun 2003 yang dituduh jambret karna kebetulan lewat pada saat massa mengejar penjahat sebenarnya. Meninggal dalam keadaan mengenaskan. Tiga tulang rusuk dan tulang pinggangnya patah. Mirisnya lagi massa yang ikut dalam pengeroyokan ayahnya tidak mendapatkan hukuman apa-apa.
Abang pertamanya juga dipenjara karna tuduhan komplotan penipuan. Yang pada kenyataannya, abang Dhita hanya menolong seorang perempuan yang mengatakan bahwa ban motornya bocor, namun kenyataan lain adalah wanita itu justru melarikan motor pinjaman dari teman satu kerjaannya.
Memikirkan kondisi Abang sulungnya dipenjara, sang Ibu mengalami sakit yang berkepanjangan akhirnya meninggal karna tidak kuat mengurus Dhita dan dua orang adiknya.
Tiga minggu setelah Ibu Dhita meninggal, Dhita dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa abang sulungnya bunuh diri dipenjara. Dhita ‘terpaksa’ hidup dan menghidupi kedua adiknya yang masih kecil dan nyaris putus sekolah.
Dimana bagian dari diri Dhita yang tidak membenci kejahatan, baik itu ringan maupun berat. Baginya sama saja. Mereka adalah orang-orang yang tidak punya kehidupan dan hanya bisa memberikan sakit kepada orang lain. Tidak mau berusaha dan mau enaknya saja.
...
            Dimana Rei?
            Kampus Yat, kenapa?
            Lunch bareng? Aku samperin ya
            Lagi asisten nih. Masih banyak junior disini. Setengah jam lagi kelar. Atau mau duluan?
            Gak deh, Aku tunggu aja. Good Luck sayang !
            Thankyou
...
            “Besok aku nampil di acara pembukaan swalayan deket Kentungan situ, kamu mau nemenin aku ga Rei?” tanya Ayat pada Karin
            “Jam berapa?”
            “Jam 10 pagi”
            “Bentar ya” Karin mengecek jadwal kuliahnya besok hari “Wah aku ada kelas”
            “Yah. Ga semangat ni”
            “Jangan dong, kan aku selalu disini” ucap Karin sambil menunjuk ke arah hati Ayat
            “Gudeg-ku jadi hambar tau gak?”
            “Lho, kenapa?”
            “Manis nya diambil kamu” ucap Ayat sambil tertawa
            “Ih kamu” Karin mengulum senyum
            “Emang kamu aja yang bisa gombalin aku?”
...
            Ayat melihat sekelilingnya. Ia belum juga menemukan Karin berada diantara ramainya pengunjung swalayan. Sebelum berangkat tadi Ayat sempat menghubungi Karin. Menanyakan apakah Karin bisa datang atau tidak. Karin tidak menjanjikan apa-apa. Dia bilang bisa datang jika dosen nya berhalangan hadir. Atau jika jadwalnya di re-schedule. Fix-lah ga bakal hadir cewe gua.
            Ayat mulai memainkan gitarnya, lalu memejamkan mata merasakan bait demi bait lagu nya mengalun. Sesekali memandang kearah penonton yang mau menyempatkan diri mengamati ia bernyanyi. Pengunjung swalayan hari itu ramai sekali, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu penyerbu barang-barang diskon dan doorprise.
...
            Karin baru saja masuk kedalam swalayan ketika Ayat baru membawakan lagu pertama. Karin langsung tau posisi Ayat menyanyi karna dikerumuni oleh beberapa pengunjung. Karin mendekat dan berada di samping kanan Ayat
            “Kenapa pejamin mata sih? Aku disini loh” ucap karin dalam hati
...
            Ayat melihat ke arah penonton ketika ia tengah menyanyikan lagu ke dua. Pandangannya menyisir semua pengunjung swalayan siang itu. Sekilas ia melihat sosok yang sangat dia kenal. Karin !
            Ayat mengerjapkan matanya berulang kali. Memastikan yang ia lihat memang Karin. Bukan sekedar bayangan atau halusinasinya saja. Karin ! ya Karin ! wanita itu memang benar Karin. Dan kali ini ia tidak salah lihat.
            Wanita itu tengah mengambil sebuah cup puding kecil berisi susu coklat yang diberikan seorang Sales Promotion Girl (SPG) susu kepadanya. Dan setelah menerimanya Karin memandang ke arah Ayat. Ia tampak sedikit terkejut karna Ayat tengah memandang kearahnya lalu kemudian tersenyum. Ayat membalasnya sambil terus melanjutkan dan meneyelesaikan penampilannya.
            Seperti dalam sebuah pacuan kuda. Ada sesuatu yang besar dalam diri Ayat memacu semangatnya. Karin berpengaruh sebesar itu. Ayat tidak menyadari sejak kapan ia menjadi sosok yang ‘hampir’ ketergantungan dengan Karin. Tapi Karin selalu membuat Ayat menjadi lebih semangat. Karin selalu punya cara membuat Ayat berharga.
            Ayat menyelesaikan lagu ke empat. Kali ini Dia membawakan lagunya American Author – Best Day of My Life.
I had a dream so big and loud
I jumped so high I touched the clouds
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh
I stretched my hands out to the sky
We danced with monsters through the night
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh

I'm never gonna look back
Woah, never gonna give it up
No, please don't wake me now

This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife

I howled at the moon with friends
And then the sun came crashing in
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh
But all the possibilities
No limits just epiphanies
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh

I'm never gonna look back
Woah, never gonna give it up
No, just don't wake me now

This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife

I hear it calling outside my window
I feel it in my soul (soul)
The stars were burning so bright
The sun was out 'til midnight
I say we lose control (control)

This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife

This is gonna be, this is gonna be, this is gonna be
The best day of my life
Everything is looking up, everybody up now
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
----“Best Day of My Life”, American Authors.

...
            “Bentar ya, aku ke manajemen nya dulu”
            “Ini udah kelar?”
            “Belum. Aku istirahat. Ya kali aku nyanyi terus. Ariel peterpan kalah ntar” canda Ayat “Tunggu ya sayang, kamu jangan kemana-mana. Nantik ilang”
            Ayat berjalan setengah berlari meninggalkan Karin didekat panggung. Pengunjung lain sudah berpencar menjauhi panggung, mencari barang-barang diskon yang mereka butuhkan. Karin berjalan ke arah barisan permen. Ia melihat permen pelega tenggorokan. Ia ambil 2 bungkus lalu berjalan ke arah kasir.
            Seseorang memegang bahu Karin ketika Karin tengah melihat beberapa snack anak-anak tersusun rapi di dekat meja kasir. Strategi marketing yang selalu ia lihat hampir di semua swalayan yang ia kunjungi. Ketika orangtua tengah melakukan penghitungan untuk pembayaran belanjanya. Si anak tentu akan meminta dibelikan snack diatas meja. Jika tidak dibelikan si anak akan menangis dan menarik perhatian pengunjung yang lain yang tentu saja mengganggu. Mau tidak mau si orangtua akan membelikan apa keinginan anaknya. Hmmm.
            “Karin”
            “Ya”
            “Kan bener kamu”
            “Eh kak Andri”
            Andri Rimawan. Pria yang selalu berpenampilan rapi dan necis. Adalah kakak tingkat setahun diatas Karin. Sejak ospek hari pertama, Pria ini sudah berusaha mendekati Karin. Karin yang awalnya mengira hanya untuk keperluan ospek  menganggap wajar perlakuan kak Andri, seniornya. Pendekatan itu berlangsung hingga Karin semester 3 dan kak Andri semester 5. Beberapa kali Karin menolak ajakan untuk keluar malam minggu namun kak Andri tidak pernah menyerah dan terus berusaha.
            Sejujurnya Karin tidak begitu cantik. Tapi ia memang sosok wanita yang menarik dan manis. Untuk beberapa keadaan Karin terlihat sangat menarik. Ketika Karin meng-handle satu acara, Karin selalu energic. Energy positif itu yang membuat semua yang melihatnya merasa jatuh cinta.
            “Dari tadi aku panggil, kamu melamun?” tanya nya
            “Iya sedikit” jawab Karin sembari tersenyum, tentu saja. Senyum getir
            “Sama siapa Rin?”
            “Tadi perginya sendiri Kak”
            “Teman-temanmu?”
            “Pada ada jadwal semua Kak”
            Andri sudah menyelesaikan pembayarannya. Dia masih menunggu Karin yang tengah bertransaksi.
            “Mau langsung pulang Rin?”tanya Andri
            “Enggak Kak, nunggu Ayat”
            “Loh, katanya sendiri”
            “Iya tadi berangkatnya sendiri. Ayat udah duluan. Karna nampil tadi disini” jawab Karin sambil melambai ke arah Ayat yang tengah mencari-carinya. “Disini” ucapnya sedikit teriak ke arah Ayat
            Setelah Ayat berada didekatnya. Karin mengenalkan kak Andri kepada Ayat “Yat, ini kak Andri. Senior ku di kampus”
            “Ayat” ucap Ayat sembari mengulurkan tangan
            “Andri” jawab Andri dengan muka sedikit jutek. “Siapa Rin?” tanya Andri kepada Karin
            “Pacarku kak” jawab Karin singkat “Ohya kami duluan ya Kak” sambung Karin
            “Ohiya iya silahkan”ucapnya
            Karin tersenyum lalu menggandeng tangan Ayat dan pergi meninggalkan Andri yang diam dengan ekspresi yang menunjukkan ketidak sukaan pada Ayat dan juga Karin. Lebih tepatnya pada hubungan mereka.
            “Andri itu sepertinya tidak suka aku ya Rei”
            “Kok kamu bilang gitu?”
            “Di matanya ada pisau dan diatas kepalanya ada tanduk merah”
            Karin tertawa dengan candaan Ayat. “Ah ada-ada aja kamu” ucapnya “Kok aku ga liat?” Sambung Karin
            “Eh beneran sayang. Ya iyalah kamu ga liat. Ini cuma cowok yang bisa lihat”
            “Loh kenapa gitu?”
            “Ya karna naluri sesama lelaki”
            “Emang lelaki ada naluri begituan Yat?”
            “Yaelah ada lah. Kamu pernah dengar lagunya Samson yang Naluri Lelaki?”
            “Pernah” jawba Karin
            “Nah gitu, ada Rei”
            “Tapi kan itu lagunya bukan untuk kondisi ini”
            “Itu lagu untuk dia ke kamu”
            “Eh beneran?”
            “Ya ga tau”
            “Yeee. Udah ah, kenapa kita jadi bahas kak Andri sih”
            “Iya juga. Ga ada bahan sayang” jawab Ayat.
Firasat ini. Rasa rindukah ataukah tanda bahaya Ayat menyanyikan sebait lagunya Marcell
“Kalau itu lagu nya dari aku Rei” sambung Ayat
“Kok berhenti? Lagi dong”
“Sedikit aja. Kalau banyak-banyak nanti kamu bosan”
“Kapan sih kamu bikin aku bosan? Kamu nyanyi dari pagi ketemu pagi juga aku suka”
“Yee. Paginya suaraku ilang Rei”, “Eh tapi kalau suara aku ilang kamu tetap mau sama aku kan?” tanya Ayat
“Emang aku suka kamu karna kamu hobi nyanyi”
“Jadi ga suka aku hobi nyanyi? Yah”
“Ya suka. Tapi itukan cuma bonus Yat”
“Jadi kamu suka aku kenapa?” tanya Ayat sambil memegang bahunya Karin mengarahkan Karin agar memandang wajahnya
“Ih” Karin menutup wajahnya yang sedikit memerah. Ayat mengembalikan Karin ke posisi sebelumnya “Ya karna kamu, ga ada alasannya” jawab Karin cepat.
Dari awal Karin menerima Ayat sebagai kekasihnya, Karin tidak pernah memberi alasan kenapa ia mau menjadi kekasih Ayat. Yang Ayat tau, Karin sangat mengagumi Ayat. Itu terlihat dari setiap Ayat melakukan hal apapun, mata Karin selalu berbinar. Bangga atas apapun yang Ayat lakukan. 
"Ohiya ini untuk kamu" Karin menyodorkan permen pelega tenggorokan yang tadi dia beli
"Makasih Rei" Ayat menerima dengan senang hati, membuka satu permen dan menyodorkannya ke Karin. Karin menerima nya. Ayat membuka satu lagi untuknya
"Biar bisa ngalahin Ariel" ucap Karin tertawa
"Kamu lebih suka aku atau Ariel?" tanya Ayat tiba-tiba
"Ya Ariel lah"
"Serius?"
"Iya" jawab Karin mantap
"Kenapa?"
"Ya Karna Ariel lebih ganteng dari kamu" jawab Karin "Cewe mana yang ga suka sama Ariel"
"Aku ga suka"
"Yee kamu kan cowo" Jawab Karin meninggalkan Ayat yang hampir menghentikan langkahnya
"Rei"
...
            Beberapa bulan belakangan Karin semakin susah ia hubungi. Telfonnya tidak pernah Karin angkat dan Pesan singkat-nya tidak pernah Karin balas. Kalau ia menemui Karin dikampus, Karin seringkali menghindar dan mengatakan ada kelas. Ternyata alasannya adalah Karin sudah memiliki kekasih. Dan Pria itu kini ada dihadapannya. Menggandeng tangan Karin, tertawa bersama karin dan meninggalkannya bagaikan pecundang yang kalah perang.
            Andri mengepalkan tangannya. ‘Sial’.

Aku adalah lelaki
Yang tak pernah lelah
Mencari wanita

Aku adalah lelaki
Yang selalu gundah
Menunggu wanitaku oh ooh yeah

Oh aku adalah lelaki
Yang pantang menyerah
Memikat wanita

Aku adalah lelaki
Yang selalu ingin
Dibuai wanitaku ooh ah

Tolong dekati aku
Tolong hampiri aku
Tolong jamahi aku

Agar aku bijaksana
Agar aku bahagia
Agar aku merasakan cinta oooh

Naluriku sebagai lelaki
Membuatku merindukan
Pujaan dari wanita
Oh yeah yeah heah

 

----“Naluri Lelaki”, Samsons



baca sebelumnya
Sepotong Daun Kering #4

baca selanjutnya
Sepotong Daun Kering #6
           

Superwomen Pendorong Trolly Makanan

Rabu, 7 Desember 2016
Sebuah panggilan masuk ke nomor ku ketika aku tengah dengan rutinitasku mengantarkan selempang dan beberapa kosmetik pesanan customer onlineku.
            “Hallo, Assalamualaikum” sapaku
            “Walaikumsalam, Desi Permatasari?” tanya lelaki diseberang telfon yang terakhir ku ketahui namanya pak Didir
            “Ya” jawabku singkat
            “Desi, kamu sudah dapat pekerjaan?” tanyanya lagi. Aku menjauhkan handphone ku dari telinga. Memandang kearah layar HP ku dan memastikan bahwa penelepon ini tidak salah orang. Karna seingatku, aku tidak sama sekali memasukkan lamaran pekerjaan. Tapi kemudian aku berfikir bahwa ini adalah rezekiku
            “Belum pak. Kenapa ya?” tanya ku kemudian
            “Kamu besok datang ke awal bros ya jam 2. Ketemu sama buk Wiza di office lantai 3 awal bros” terangnya
            ‘awal bros?’ pikirku, awal bros kan rumah sakit? Aku tidak merasa pernah memasukkan lamaran ke rumah sakit, karna aku memang menghindari bekerja di rumah sakit dan bank untuk alasan pribadi
            “Awal bros rumah sakit pak?”tanyaku polos
            “Loh iya. Rumah sakit awal bros yang sudirman ya”
            “Iya pak. Terimakasih” lalu aku mengucap salam dan bergegas pulang untuk mempersiapkan diri esok hari
Sepanjang perjalanan aku mikir, kapan aku memasukkan lamaran ke awal bros? Ah terserahlah, aku hanya menganggap ini adalah rezekiku
Kamis, 8 Desember 2016
            Aku sampai di parkiran RS Awal Bros pukul 13.47 WIB. Gedung rumah sakit ini begitu besar dan mewah. Banyak kendaraan keluar masuk. Aku berjalan menuju gedung, kulihat 2 orang security tengah berjaga di pintu masuk yang kemudian ku ketahui adalah Unit Gawat Darurat (UGD).
            “Bang, mau tanya Office lantai 3 dimana ya bang?” tanyaku langsung, kupandang dua security berpakaian dongker gelap lebih ke hitam dihadapanku. Kubaca namanya ‘Dodi’ dan ‘Syaiful Bahri’
            “Ngapain ke Office  dek?” tanya security bernama Dodi padaku
            “Saya disuruh ketemu dengan buk Wiza” jawabku
            “Ngapain?” tanyanya lagi, aku yang pada dasarnya emang tidak suka dengan lelaki banyak tanya tiba-tiba langsung bete.
 ‘ah mungkin prosedurnya memang begini’ ujarku dalam hati
“Iya, mau wawancara kerja” jawabku lagi
“Bagian apa?” tanyanya lagi
“Gizi” jawabku singkat. kulirik sekilas lelaki bernama Syaiful yang kemudian ku panggil ‘bg Ipul’ ini terus melayani pasien dan keluarga yang keluar masuk UGD. Sambil sesekali ikut berbicara dengan lelaki bernama Dodi ini.
Setelah mendapatkan arah yang tepat sesuai petunjuk, aku berjalan. Dan sampai di Musholla. Tidak ada jalan lain fikirku. Lewat seorang dengan pakaian berwarna hijau muda, aku berinisiatif untuk bertanya padanya. Kulirik sekilas jam ku sudah menunjukkan pukul 14.08 ‘ah terlambat fikirku’
“Kak, mau numpang tanya”
            “Ya” jawabnya
            “Lantai 3 Office dimana ya kak?” tanyaku
            “Oh, lewat sini” Dia menunjukkan jalan menuju Office lantai 3. Setelah berterimakasih aku berjalan menaiki tangga hingga sampai di Office lantai 3.
Aku masuk dan menyatakan kehadiran di meja resepsionis
“Permisi buk, saya disuruh jumpa dengan Ibu Wiza”
“Dengan siapa?” tanyanya
“Desi Permatasari” jawabku
“Perlu apa?” tanyanya lagi
“Wawancara buk”
“Oh. Untuk gizi ya?” tanyanya kemudian sambil mengambil sebuah absen
“Iya Bu”
“Isi absen dulu ya” ujarnya “Kok terlambat?” tanyanya ketika aku tengah mengisi absen
“Maaf bu, tadi gak tau arah kesini”
“Tunggu disitu nanti dipanggil”
            Aku duduk dikursi tunggu. Ada tiga orang perempuan yang tengah menunggu untuk dipanggil wawancara juga. yang satu badan nya tinggi sekitar 170an, kurus. Rambutnya di gerai sebahu dengan jepit polos berwarna hitam. Riasan wajahnya sedikit mencolok bagiku yang saat itu hanya memakai bedak baby. Mengenakan setelan rok pendek hitam dan kemeja lengan panjang. Tidak lupa heels dengan tinggi sekitar 5 cm yang membuat tubuhnya semakin tinggi menjulang. Tengah bercerita dengan wanita disebelahnya dengan tinggi dan berat badan sedikit lebih mungil dariku. Riasan wajahnya juga biasa saja sepertiku. Mengenakan celana panjang dan kemeja biru polos dan jilbab senada. Di sudut kursi, duduk pula seorang wanita yang agak gemuk dariku tapi tidak lebih tinggi dari sebelahnya. Mengenakan rok hitam dan baju kemeja dengan jilbab berwarna hitam. Duduk sambil memainkan handphone nya, kupercaya wanita ini kurang percaya diri dan kurang komunikasi. Terlihat dengan caranya bersikap ketika bertanya.
            Satu persatu dari mereka masuk dan keluar dari ruangan berpintu hijau. Kupandang jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 14:21 WIB ketika wanita tinggi ber rok pendek itu masuk, beberapa menit kemudian wanita itu keluar dan dilanjutkan dengan dua lainnya. Setelah wanita terakhir keluar, aku menunggu hingga pukul 15:03 dan kemudian merasa aneh karna tidak dipanggil-panggil. Padahal wanita terakhir langsung dipanggil setelah wanita sebelumnya keluar. Aku merasa gagal bahkan sebelum wawancara, ‘apa karna aku terlambat ya?’ bathinku sedetik kemudian
            Aku hendak berdiri dari kursiku untuk bertanya ketika kemudian wanita berjas hitam menghampiriku
“Namanya siapa?” tanyanya
            “Desi Permatasari kak” jawabku
            “Mau wawancara? Tunggu sebentar ya, yang mewawancara satu lagi shalat” jelasnya
            “Ohiya kak” jawabku singkat, lalu kembali duduk
Waktu menunjukkan pukul 15:43 ketika namaku dipanggil dan disuruh masuk kedalam ruangan berpintu hijau. Kulihat banyak orang ada didalam ruangan tersebut. Sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada banyak kursi yang kulihat selama ini seperti kantor-kantor di tivi-tivi. Aku masuk kedalam ruangan berukuran 4x3m dengan kaca bening yang bisa dilihat dari luar. Namun ternyata kedap suara. Begitu masuk aku disuruh duduk
“Silahkan duduk” ujar seorang wanita
Aku pun duduk. Didepanku ada dua wanita. Yang satu kurus mengenakan pakaian dinas berwarna hijau muda dan berjilbab abu-abu, kacamata bulat yang kemudian aku tersenyum, tapi hatiku tertawa. Wajahnya sungguh aneh dengan kacamata yang tengah dia kenakan. Antara tidak cocok atau apa ya. Style yang terlalu dipaksakan menurutku. Yang satunya lagi kakak yang tadi menyuruhku menunggu, mengenakan jas warna hitam dan tidak mengenakan riasan wajah. Badan nya sedikit gemuk dan kelihatannya baik
“Perkenalkan diri kamu” ucap wanita berjas hitam
Setelah memperkenalkan diri wanita berjas hitam yang kemudian kuketahui bernama Adq Irma Suryani. Bagian SDM memperkenalkan wanita aneh disebelahnya
“Desi, ini Ibet yang nanti akan menjadi atasan kamu jika kamu diterima” ucap kak Irma
“Ibek?” tanyaku memastikan
‘ternyata bukan style nya saja yang aneh, namanya juga aneh’ bathinku
“Ibet” ralatnya
“Oh Ibet” Gumamku
“Elizabeth” sambungnya lagi. Mungkin merasakan ketidakpahamanku terkait namanya
“Elizabeth?” tanyaku lagi “Bagus ya namanya, kayak nama orang kerajaan di Belanda “ ujarku sok tau, tapi bagiku namanya emang sekeren itu. Apalagi dia mengenakan hijab. Nama yang tidak biasa untuk seorang beragama islam, atau hanya pikiranku saja?
Wawancara berlangsung sedikit lebih lama menurutku. Aku mengingat kembali beberapa wanita sebelumku yang mungkin hanya menghabiskan waktu 5-10 menit untuk wawancaranya. Kulirik sekilas jam tanganku, pukul 16:22. Sudah hampir setengah 5. Ini bukan perasaanku saja bahwa wawancara ini terasa lama. Tapi emang lama, aku sudah setengah jam diruangan ini. Dan heran nya aku merasa nyaman. Tidak takut atau deg-degan seperti wawancara yang kulihat di youtube.
“Udah hampir setengah 5 ya” ujar kak Irma kemudian
            “Eh iya. Udah ya kak” sambung kak Ibeth
            “Udah bet? Ada yang mau ditanya lagi?” tanyanya
            “Ibeth udah kak” jawabnya
            “Yaudah ya Desi. Wawancara nya udah selesai. Nanti tunggu panggilan selanjutnya” kemudian aku berdiri dan menyalami mereka berdua
Aku turun kebawah dan menuju mushola yang tadi kulewati. ‘Aku sudah terlambat untuk melaksanakan shalat Zuhur’ bathinku
Selesai shalat aku belum mau langsung pulang. Rasanya perutku sakit sekali. ingin buang air besar. ‘ah gak tepat banget sih?’ ujarku kesal. Kebetulan tempat wudhu di musholla ini ada WC dan juga kamar mandinya. Akupun pulang, diperjalanan aku teringat ucapan Bapakku jika kita pergi test masuk sekolah atau bekerja dan sempat buang hajat ditempat itu, tanda nya kita diterima dan akan bergabung ditempat itu. Duh, memikirkannya saja sudah bahagia. Hahah
Jarak antara kost dan rumah sakit sekitar 40 menit menggunakan sepeda motor. Aku masih diperjalanan ketika handphoneku berdering. Begitu sampai kost, kulihat hp-ku. Ada 8 panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Setelah meletakkan tas, aku menghubungi nomor tersebut dan menjelaskan bahwa tadi aku tengah di perjalanan pulang. Dan ternyata aku lulus dan disuruh datang pukul 09.00 WIB esok hari untuk menjalani Medical Check Up. Yang biayanya ditanggung sendiri sebesar 260rb.
Jum’at, 9 Desember 2016
Keesokan harinya aku menjalani serangkaian Medical Check Up dibagian MCU lantai 2 gedung Selatan yang terdiri dari 10 lantai. Setelah menjalani serangkaian Medical Check Up yaitu pemeriksaan Mulut, Darah, Air Kencing, Rontgen dan tes fisik aku pulang untuk menunggu hasil. Hingga sore hari Hp-ku tidak berdering. Aku menerka-nerka apakah aku memiliki penyakit yang tidak kuketahui? Kuambil Hp ku dari dalam tas, ku buka lipatnya  (samsung lipat dual SIM). Ternyata Hp ku silent dan ada beberapa panggilan tidak terjawab tertera di layar HPku. ‘Oh God. You’re so smart Des’ kutukku pada diri sendiri. Ku tarik nafas dengan asal-asalan dan menghubungi kembali nomor yang tertera, tanpa menjelaskan kenapa aku tidak mengangkat telfon suara diseberang menyuruhku untuk datang besok pagi pukul 09:00 WIB ke Rumah Sakit Awal Bros untuk langsung bekerja “Its so amazing. Thanks God. Alhamdulillah”